tahapan proses kimia analisis kuantitatif
1. Pengantar Kimia Analisis Kuantitatif

Tahapan Analisis Kuantitatif Secara Umum

Diagaram berikut diambil dari buku ‘Fundamental of Analytical Chemistry 8th Douglas A. Skoog yang menunjukan bagaimana proses analisis kuantitatif dilakukan. Proses pengerjaan bisa dilakukan dengan memotong kompas sesuai dengan situasi yang dihadapi, misalnya jika sampel sudah dalam bentuk liquid maka dari pemilihan metode kita bisa loncat ke tahap pengukuran sifat sampel yang bisa diukur.

  1. Pemilihan Metode
    Tahap pertama dalam proses analisis kuantitatif adalah memilih metode analisis yang akan dialkukan. Faktor yang menentukan pilihan ini antara lain seberapa besar akurasi yang diinginkan, biaya analisis, jumlah sampel yang harus dianalisis, waktu pengerjaan analisis, ketrampilan orang yang melakukan analisis, kompleksibilitas sample, dan jumlah komponen yang terdapat di dalam sampel.
  2. Pengumpulan Sampel
    Seorang analis harus dapat mengumpulkan sampel dari material yang akan di analisis dimana sample ini harus mewakili material tersebut. Mewakili disini diartikan bahwa sampel yang analis ambil harus memiliki komposisi yang sama dengan material. Sebagai contoh seorang analis akan menentukan kadar besi dalam satu truk biji besi. Maka analis ini akan mengambil sampel dari satu truk biji besi untuk bisa di analisis di laboratorium. Pengambilan sampel harus dilakukan sedemikian rupa untuk memastikan bahwa sampel yang diambil ini bisa mewakili keadaan yang sebenarnya.

Proses pengumpulan sampel bisa jadi merupakan tahapan yang paling sulit dalam proses analisis kuantitatif, sebab pengumpulan sampel yang tidak representatif dapat menjadi sumber kesalahan sehingga hasil analisis nantinya tidak dapat diandalkan.

  1. Pemrosesan Sampel
    Adakalanya kita mendapatkan sampel yang tidak perlu di proses sama sebagai contoh kita menganalisis air sumur maka pH sampel tersebut dapat di ukur saat itu juga. Namun, beberapa sampel memerlukan pengolahan terlebih dahulu yaitu,

Persiapan sampel di laboratorium
Apakah sampel perlu di tumbuk terlebih dahulu untuk mendapatkan ukuran yang homogen kemudian apakah perlu dikeringkan sebelum dianalisis. Tempat penyimpanan sampel juga harus dipikirkan agar sampel tidak terkontaminsi dengan zat lainnya.

Replikasi Sampel
Analis dalam melakukan analisis kuantitatif material biasanya melakukannya tidak hanya dengan menggunakan satu sample, namun mereka menggunakan replikasi sampel. Replikasi sampel dapat meningkatkan kualitas hasil analisis dan reliabilitas hasil.

Pelarutan Sampel
Umumnya proses analisis dilakukan pada analit yang sudah dirubah dalam bentuk larutan. Maka penting untuk mengubah sampel agar dapat menjadi larutan dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Idealnya pelarut yang digunakan adalah yang dapat melarutkan semua komponen yang diinginkan untuk di analisis.

Begitu analit sudah bisa diubah menjadi bentuk larutan maka kita kemudian memikirkan sifat apa yang dimiliki oleh sampel yang sifat ini sebanding dengan konsentrasi analit dan bisa diukur. Misal sifat analit adalah basa maka kita dapat menntukannya dengan metode titrasi, jika analit dapat di presipitasi maka kita dapat mereaksikannya dengan reagen tertentu, atau jika analit memiliki warna tertentu maka kita dapat mengukur absorbansinya.

Bagaimana jika kita tidak dapat mengukur sifat analit? maka kita dapat mengubahnya ke dalam bentuk formula yang lain. Contoh untuk menentukan kandungan mangan (Mn) pada baja maka mangan dari baja tersebut bisa kita oksidasi menjadi bentuk permanganat (MnO4-) sebab permanganat memiliki warn aviolet sehingga dapat diukur absorbansinya.

  1. Penghilangan Interferen
    Setelah sampel di rubah menjadi bentuk larutan maka kita harus menghilangkan spesies selain analit yang mungkin terdapat dalam larutan tersebut. Spesies selain analit ini bisa saja menganggu hasil akhir pengukuran dengan cara meningkatkan atau menurunkan kuantitas pengukuran. Spesies yang dimaksud ini disebut sebagai interferen. Analis harus bisa mengisolasi analit dari interferen ini dengan menggunakan skema tertentu sebelum melaksanakan pengukuran.
  2. Perhitungan Konsentrasi
    Proses analisis tergantung dari pengukuran akhir sifat fisika atau kimia analit yang akan ditentukan. Misalnya analit yang ada didalam sampel kita anggap sebagai ‘X’, maka pengukuran sifat fisat dan kimia yang kita lakukan harusnya proporsional dengan konsentrasinya (C)

C = kX

dimana k adalah kontanta kesebandingan. Proses penentuan nilai k sangat penting dalam proses analisis dan biasanya dilakukan dengan kalibrasi.

  1. Perhitungan Hasil
    Perhitungan hasil didasarkan pada data eksperimen awal yang telah didapatkan, karakteristik instrumen yang dipakai, dan stoikiometri reaksi pada saat tahapan analisis yang telah dilakukan.
  2. Estimasi Reliabilitas Hasil
    Hasil analisis tidak lengkap dengan estimasi reliabilitasnya. Pengukuran ketidakpastian yang berhubungan dengan perhitungan hasil perlu dilampirkan.

Referensi:

1. https://www.slideshare.net/NoeChan24/chapter-1-66059397

2. Fundamental of Analytical Chemistry 8th Skoog, Thomson Brooks/Cole

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.