Author: feriferosianat

  • Menentukan Kadar H2S dalam Air Payau

    Menentukan Kadar H2S dalam Air Payau

    Kadar H2S dalam air payau akan ditentukan oleh Mahasiswa di laboratorium. 100,0 mL air payau di aliri gas NH3 dan selanjutnya sulfidanya di titrasi secara argentometri dengan menggunakan larutan standar AgNO3 0.0230 N, dan ternyata di butuhkan 16.47 mL sampai titik akhir titrasi. Hitunglah kadar H2S dalam air payau tersebut dalam satuan ppm?

    Jawab

    menentukan kadar h2S dalam air payau
  • Cara Membuat Larutan Standar Primer AgNO3

    Cara Membuat Larutan Standar Primer AgNO3

    Diskripsikan bagaimana cara membuat 2.000 L larutan AgNO3 0.0500 M (Mr=169.87 g/mol) dengan menggunakan standar primer AgNO3

    Jawab:

    Pertama kita hitung dulu berapa mol AgNO3 yang di butuhkan untuk membuat 0.0500 M AgNO3 2 L setelah itu kita kalikan mol dengan Mr untuk mendapatkan massanya. Cara membuatnya adalah dengan melarutkan massa AgNO3 yang telah didapat, dan kemudian mengencerkannya hingga volumenya tepat 2 L

    cara membuat larutan standar AgNO3
  • Menentukan Kadar Fosfos Sebagai P2O5

    Menentukan Kadar Fosfos Sebagai P2O5

    Kandungan fosfos di dalam 4,258 g sampel yang berasal dari makanan nabati dikonversi menjadi PO43- dan selanjutnya diendapkan sebagai Ag3PO4 dengan menambahkan 0.0820 N AgNO3 50 mL. AgNO3 yang berlebih kemudian di titrasi kembali dengan menggunakan 0.0625 N KSCN dan membutuhkan 4.86 mL. Tentukan kandungan fosfor dalam makanan tersebut sebagai %P2O5

    Jawab :

    Ini merupakan contoh titrasi argentometri dengan cara titrasi kembali. Awal perhitungan gunakan mol AgNO3 mual-mula kemudian di kurangi dengan

    menentukan kandungan fosfos dalam makanan
  • Konsentrasi Molar Analitik & Konsentrasi Molar Kesetimbangan

    Konsentrasi Molar Analitik & Konsentrasi Molar Kesetimbangan

    Hitunglah konsentrasi molar analitik dan konsentrasi molar kesetimbangan larutan di dalam air yang dibuat dari 285 mg asam trikloroasetat Cl3CCOOH (mr = 163.4 g/mol) dalam 10 mL air (asam ini terionisasi 73% dalam larutan )

    latihan soal kimia analisis kuantitatif
  • Mengubah ppm ke Molaritas

    Mengubah ppm ke Molaritas

    Berapakah molaritas ion K+ dalam suatu larutan yang mengandung 63.3 ppm K3Fe(CN)6 (mr = 329.3 g/mol)

    Jawab:

    tips mengerjakan soal seperti ini

    1. Ubah ppm ke satuan mg/L
    2. hitung konsentrasi K3Fe(CN)6
    3. Konversikan ke molaritas K+
    soal latihan kimia analisis kuantitatif
  • Menghitung Konsentrasi Larutan HCl Pekat

    Menghitung Konsentrasi Larutan HCl Pekat

    Hitunglah konsentrasi molar larutan HNO3 (Mr=63.0 g/mol) yang memiliki spesifik graviti 1.42 dan 70.5% w/w HCl

    Jawab:

    Untuk menjawab soal ini maka kita perlu mengubah satuan HCl pekat diatas menjadi satuan g/L HCl, selanjutnya dengan membagi dengan Mr HCl kita memperoleh molaritas HCl pekat

    latihan soal kimia analisis kuantitatif
  • Membuat Larutan HCl 6 M dari HCl Pekat

    Membuat Larutan HCl 6 M dari HCl Pekat

    Diskripsikan pembuatan 6 M HCl 100 mL yang di buat dari larutan HCl pekat yang memiliki spesifik graviti 1.18 dan 37% w/w HCl (Mr HCl = 36.5 g/mol)

    Jawab:

    Untuk menjawab soal ini kita pertama harus menghitung berapa M larutan HCl pekat yang memiliki spesifik graviti 1.18 dan 37% w/w HCl setelah itu dengan menggunakan rumus pengencaran kit adapat mengetahui berapa mL HCl pekat yang dibutuhkan

    soal kimia analisis kuantitatif
  • Membuat Larutan 0.0740 M Cl- Dari BaCl2.2H2O

    Membuat Larutan 0.0740 M Cl- Dari BaCl2.2H2O

    Bagaimana cara membuat larutan 0.0740 M Cl- yang dibuat dari BaCl2.2H2O ?

    Jawab:

    Cara mengerjakan soal ini adalah dengan mengkonversi mol ion Cl- ke dalam mol BaCl2.2H2O selanjutnya dari sini kit amengkalikan dengan mr BaCl2.2H2O untuk mendapatkan massanya .

  • Menentukan Konsentrasi Dalam Prosentase

    Menentukan Konsentrasi Dalam Prosentase

    Kimiawan kimia analisa seringkali mengekspresikan konsentrasi dalam satuan persen (bagian per seratus). Sayangnya dalam prakteknya hal ini sering mengalami ambigu disebabkan komposisi dalam prosentase dapat dinyatakan dalam berbagai varibel contohnya

    1. Prosentase berat (w/w)
    2. Prosentase volume (v/v)
    3. Prosentase berat per volume (w/v)

    Dan cara menghitung ketiga besaran diatas adalah sebagai berikut,

    rumus konsentrasi dalam prosentase

    Perlu diingat bahwa penyebut dari perhitungan diatas adlah selalu larutan bukan pelarutnya. Perlu diingat juga bahwa unit untuk dua persamaan pertama tidak perlu disebutkan sedangkan untuk persamaan ketiga harus disebutkan karena unit antara pembilang dan penyebutnya tidak sama.

    prosentase berat biasanya dipakai untuk mengekspresikan konsentrasi larutan komersial contohnya asam nitrat pekat dijual dengan prosentase berat 70% yang artinya terdapat 70 g HNO3 dalam 100 g larutan. Prosentase volume biasanya dipakai untuk mengekspresikan konsentrasi larutan yang dibuatdari cairan murni yang di encerkan ke dalam pelarut. Contohnya 5% volume etanol artinya terdapat 5 mL etanol yang diencerkan dalam 95 mL air.

    Prosentase berat per volume biasa dipakai untuk merujuk pada reagen padat yang di larutkan dalam air. Contoh larutan 5% w/v perak nitrat artinya terdapat 5 g AgNO3 yang dilarutkan dalam air sehingga volumenya menjadi 100 mL.

  • Membuat Kurva Titrasi Kompleksometri

    Membuat Kurva Titrasi Kompleksometri

    Artikel ini akan memaparkan bagaimana kita dapat menggambarkan kurva titrasi kompleksometri. Namun sebelum kita ke bagaian perhitungan untuk membuat kurva titrasi ada baiknya kita pahami dulu tentang konstanta kesetimbangan logm-EDTA dulu ya.

    Kali ini kita akan contohkan kompleks logam-EDTA dengan contoh ion logamnya adalah Cd2+, ion Cd2+ akan bereaksi dengan bentuk EDTA terdeprotonasi Y4- dengan reaksi sebagai berikut,

    Hasil reaksi diatas dapat digambarkan dalam bentuk struktur berikut, dimana M adalah untuk logam Cd2+

    struktur kompleks edta dan kation

    Sehingga dari reaksi (1) maka kita dapat menentukan rumus konstanta kesetimbangannya yaitu,

    Disebabkan nilai Kf adalah cukup besar maka dapat kita anggap bahwa reaksi (1) kesetimbangannya mengarah ke arah kanan ya yaitu ke arah pembentukan CdY2-. Perlu diketahui bahwa EDTA adalah asam lemah. Bentuk EDTA yang terprotonasi dilambangkan sebagai H6Y2+ dimana harga ke enam pKa EDTA adalah,

    ke enam harga Ka EDTA

    4 harga pKA EDTA berasal dari empat gugus karboksilat EDTA sedangkan dua terakhir berasal dari gugus amonium EDTA. Untuk EDTA yang tercantum didalam reaksi (1) yaitu dalam bentuk Y4- terjadi pada saat pH diatas 10.24.

    Guna menghitung konstanta kesetimbangan pembentukan CDY2- dipersamaan (2) maka kit amengasumsikan EDTA ada dalam bentuk Y4-. Disebabkan EDTA memiliki banyak bentuk maka dalam membuat larutan EDTA maka total konsentrasi EDTA tidak boleh hanya berasal dari Y4- saja. Oleh sebab itu untuk menggunakan persamaan (2) kita perlu menulis kembali dalam bentuk Cedta. Pada pH berapapun maka kesetimbangan EDTA memerlukan semua bentuk EDTA yaitu,

    Untuk mengkoreksi konstanta pembentukan EDTA dengan sifat asam dan basanya maka kita perlu menghitung fraksi aY4- dalam bentuk Y4-,

    fraksi aY4-

    Berikut nilai aY4- pada berbagai nilai pH.

    tabel fraksi ay4-

    Untuk dapat menyelesaikan persamaan (4) maka kita harus mensubstitusi ke persamaan (2) guna mendapatkan konstanta pembentukan CdY2-

    dimana K’ adalah konstanta pemebentukan CdY2- kondisional yang di pengaruhi oleh pH.

    Kompetisi pembentukan Kompleks EDTA dengan ligan yang lain
    Titrasi kompleksometri biasanya dilakukan dengan mem-buffer analit yang akan di titrasi. Jika salah satu komponen buffer tersebut dapat bereaksi dengan Cd2+ maka akan terjadi kompetisi pembentukan kompleks Cd-EDTA dengan CD-Ligan yang ada di buffer.

    Sebagai contoh jika menggunakan buffer NH4+/NH3 dimana komponen buffer ini akan dapat membentuk kompleks Cd-NH3. Disebabkan kompleks Cd-EDTA lebih kuat maka EDTA dapat menggantikan NH3 dalam kompleks Cd-NH3 akan tetapi kestabilan kompleks Cd_EDTA akan berkurang.

    Sekarang kita dapat menghitung efek dari agen pengompleks tambahan seperti NH3, dengan cara yang sama kita memperhitungkan nilai pH maka sebelum EDTA ditambahkan Ccd dapat ditulis sebagai berikut,

    perhitungan kurva titrasi kompleksometri

    nilai acd2+ dipengaruhi oleh konsentrasi NH3 namun nilai aY4- dipengaruhi oleh pH.

    Dengan menyelesaikan persamaa (8) untuk Cd2+ dan mensubstitusinya ke persamaan (6) kita akan mendapatkan,

    perhitungan konsentrasi ion logam dalam pembuatan kurva titrasi kompleksomteri

    untuk memberikan konstanta pembentukan kondisional yang memperhitungkan nilai pH dan agen pengompleks tambahan. tabel dibawah memberikan nilai aM2+ untuk beberapa kation dengan buffer NH3 dalam berbagai konsentrasi

    Menggambar Kurva titrasi Kompleksometri
    Mari kita membuat kurva titrasi 0,005 M Cd2+ 50 mL dengan titran 0,0100 M EDTA dengan buffer pH 10 memakai buffer NH4+/NH3. Sebelum titik ekuivalen maka Cd2+ terdapat dalam keadaan berlebih dan pCD ditentukan dengan menggunakan konsentrasi Cd2+ yang tidak bereaksi. Disebabkan pula tidak semua Cd2+ yang tidak bereaksi dengan EDTA ada dalam keadaan bebas namun ada yag dalam bentuk kompleks dengan NH3 maka kita harus memperhitungkan kehadiran NH3 ini sebagai agen pengomplkes tambahan. Sebagai contoh setelah penambahan 5 mL EDTA maka total konsentrasi Cd2+ adalah sebagai berikut,

    membuat kurva titrasi kompleksometri

    Pada titik ekuivalen maka analit sekarang ada dalam bentuk CdY2-. Konsentrasi Cd2+ ditentukan dengan menggunakan disosiasi CdY2-

    membuat kurva titrasi kompleksometri

    Setelah titik ekuivalen, maka EDTA ada dalam keadaan berlebih sehingga konsentrasi Cd2+ kita tentukan dengan disosiasi kompleks CdY2-.

    membuat kurva titrasi kompleksometri

    Dengan menghitung memakai tiga contoh perhitungan diatas kita dapat membuat tabel sebagai berikut,

    dan kurva titrasi kompleksometri akan seperti ini

    kurva titrasi kompleksometri