Author: feriferosianat

  • Titrasi Eror Terkait Indikator Pada Titrasi Asam Basa

    Titrasi Eror Terkait Indikator Pada Titrasi Asam Basa

    Terdapat dua jenis titrasi eror pada titrasi asam basa yang berhubungan dengan indikator. Titrasi eror pertama terjadi pada saat kesalahan menentukan perbedaan pH antara pH pada saat indikator berubah warna dengan pH titik ekuivalen. Apabila terjadi hal yang demikian maka solusinya adalah dengan cara memilih jenis indikator yang nantinya akan dipergunakan dalam titrasi atau dengan membuat koreksi dengan titrasi blanko.

    Jenis titrasi eror yang kedua adalah berasal dari keterbatasan penghilatan mata orang yang melakukan titrasi untuk mengamati perubahan warna walau perubahannya sangat kecil. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kualitas pengulangan titrasi yang akan dilakukan. Bisa saja warna pengyulangan titrasi yang kedua dan seterusnya memiliki perbedaan warna pada titrasi yang pertama.

    Besarnya kesalahan yang menyebabkan hal tersebut terjadi dipengaruhi oleh perubahan pH permililiter reagent pada saat terjadinya titik ekuivalen, konsentrasi indikator, dan sensitifitas mata pengamat saat terjadinya perubahan warna indikator.

    Rata-rata ketidakpastian visual saat kita menggunakan indikator pada titrasi asam basa adalah antara +-0,5 s/d +-1 unit pH. Ketidakpastian ini dapat diperkecil hingga -+0,1 unit pH dengan cara mencocokan warna larutan yang telah dititrasi dengan larutan yang berisi sejumlah indikator yang sama pada pH tertentu.

    Variabel yang menentukan perubahan sifat indikator
    Interval pH pada saat indikator mengalami perubahan warna dipengaruhi oleh temperatur, kekuatan ion dari spesies yang terdapat di dalam larutan, adanya kehadiran pelarut organik, dan adanya partikel koloid. Dua yang disebutkan terakhir dapat menyebabkan pergeseran pH perubahan warna indikator sampai dengan 1 atau lebih unit pH.

    Indikator Umum Yang di pergunakan pada titrasi asam basa
    Daftar di bawah ini adalah beberapa indikator yang biasa dipergunakan untuk titrasi asam basa, beserta range pH indikator masing-masing. Perlu diperhatikan bahwa range pH indikator dibawah ini berkisar antara 1,1-2.2 dengan rata-rata 1,6 .

    rang eindikator asam basa
  • Standarisasi Larutan Standar Basa

    Standarisasi Larutan Standar Basa

    Larutan standar basa yang sering di pakai untuk titrasi asam basa adalah NaOH meskipun KOH dan Ba(OH)2 juga sering di pakai. Baik NaOH, KOH, dan Ba(OH)2 bukan merupakan standar primer maka larutan standar ini harus di standarisasi sebelum di pergunakan untuk keperluan titrasi.

    Pengaruh CO2 pada larutan standar basa
    Baik dalam bentuk larutan ataupun padatannya, hidroksida dari natrium, kalium, serta barium bereaksi dengan cepat dengan CO2 dari udara dengan reaksi sebagai berikut,

    reaksi co2 dengan ion oh-

    Untuk titrasi yang menggunakan indikator dengan dengan transisi asam (seperti bromocreasol green) maka pengaruh absorbsi CO2 terhadap larutan standar ini tidak akan menyebabkan titrasi eror disebabkan setiap ion karbonat yang dihasilkan dari reaksi antara NaOH atau KOH akan juga bereaksi dengan dua ion hidronium dengan reaksi sebagai berikut,

    reaksi co2 dengan asam

    Sayangnya jika titrasi menggunakan indikator dengan transisi basa (contohnya fenolftalein) maka penyerapan CO2 oleh larutan standar NaOH atau KOH akan berpengaruh menyebabkan sistematik eror yang biasa disebut dengan ‘karbonat eror’. Hal ini disebabkan setiap ion karbonat CO32- hanya bereaksi dengan satu ion hidronium

    reaksi ion karbonat dengan asam

    Cara terbaik menyiapkan larutan standar basa
    Cara terbaik untuk menyiapkan larutan standar basa contohnya NaOH yang bebas dari CO2 adalah dengan menyiapkan larutan standar yang lebih pekat yaitu dengan konsentrasi 50% NaOH disebabkan CO2 memiliki kelarutan yang rendah dalam larutan NaOH pekat. Selanjutnya larutan ini bisa diencerkan dengan sampai konsentrasi yang diinginkan jika ingin melakukan titrasi.

    Air yang dipergunakan untuk penyiapan larutan standar basa juga harus bebas dari CO2. Air yang berada dalam kesetimbangan dengan atmostfer memiliki konsentrasi CO2 sekitar 1,5x10exp-3 mol/L olah sebab itu air distilasi sebelum di pakai untuk melarutkan NaOH harus dididhkan terlebih dahulu untuk menghilangkan kandungan CO2 ini. Cara lain adalah dengan mengalirkan gas inert kedalam air distilasi. Proses penghilangan gas dari larutan dengan cara mengalirkan gas inert kedalamnya ini disebut sebagai ‘sparging’.

    Botol yang terbuat dari polietilen yang memiliki penutup rapat dipergunakan untuk menyimpan larutan standar basa untuk menghindari reaksi larutan dengan CO2. Yang perlu diperhatikan adalah sebelum menutup botol maka, Anda bisa memencet botol terlebih dahulu untuk mengeluarkan udara yang ada dalam botol sehingga kita dapat mengurangi gas yang terjebak didalam botol sebelum kita menutupnya.

    Konsentrasi larutan NaOH akan berkurang sekitar 0,1% sampai 0,3% per minggu jika larutan ini disimpan dalam botol kaca. Hal ini terjadi disebbakan reaksi NaOH dengan kaca untuk membentuk silikat. Dengan alasan inilah larutan standar basa tidak boleh disimpan dalam botol kaca dalam periode lebih dari 1 atau 2 minggu dalam botol yang terbuat dari kaca.

    Standarisasi larutan basa
    Beberapa zat dapat di pakai untuk proses standarisasi larutan standar basa, umumnya yang dipakai adalah asam organik lemah yang menggunakan indikator dengan transisi basa.

    Kalium hidrogen ftalat
    Kalium hidrogen ftalat KHC8H4O4 adalah zat ideal untuk standarisasi larutan basa. Zat non hidroskopik berwarna putih yang memiliki massa molar yang cukup tinggi (202,2 g/mol). Jika Anda memberi dalam bentuk garam dengan grade analitikal maka zat ini tidak perlu dimurnikan lagi.

    Zat standar primer lain untuk standarisasi larutan basa
    Asam bensoat dengan grade analitikal bisa dipakai untuk standarisasi larutan basa. Disebabkan kelarutan zat ini dalam air sangat terbatas maka asam benzoat dapat dilarutkan dalam etanol selanjutnya diencerkan dengan air distilasi. Jangan lupa titrasi blanko diperlukan untuk mengurangi titrasi eror sebab komersial etanol biasanya bersifat sedikit asam.

    Zat lain yang dapat dipakai adalah kalium hidrogen iodat KH(IO3)2. KH(IO3)2 adaalah zat standar primer yang baik pula untuk standarisasi larutan satndar basa disebabkan dia merupakan asam kuat dan memiliki massa molar yang tinggi per mol proton. Dapat digunakan dengan berbagai macam indikator dengan titrasi yang dilakukan pada kisaran pH 4-10.

  • Standarisasi Larutan Standar Asam

    Standarisasi Larutan Standar Asam

    Larutan standar asam untuk titrasi asam basa biasanya dipakai dari asam klorida HCl, asam perklorat HClO4, atau asam sulfat H2SO4. Larutan asam nitrat jarang dipakai untuk menjadi larutan standar disebabkan sifat oksidatornya.

    HCl banyak dipergunakan untuk titrasi asam basa disebabkan HCl tidak banyak menghasilkan endapan klorida dengan sejumlah banyak kation. Jika kation pada analit yang akan di titrasi menyebabkan endapan klorida maka larutan standar dapat dipakai HClO4 atau H2SO4. Larutan standar asam biasanya di siapkan dengan cara mengencerkan sejumlah volume tertentu larutan pekat asam kemudian di standarisasi dengan standar primer.

    Zat apa sajakah yang dapat dipakai untuk proses standarisasi larutan asam untuk titrasi asam basa?

    Natrium Karbonat
    Larutan asam biasanya di standarisasi dengan menggunakan standar primer natrium karbonat Na2CO3. Padatan Na2CO3 grade analisis dijual secara komersial atau jika tidak ada bisa menggunakan NaHCO3 yang dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 270 C – 300 C selama 1 jam ,

    2NaHCO3(s) -> Na2CO3(s) + H2O(g) + CO2(g)

    Dengan menggunakan Na2CO3 sebagai standar primer maka dua titik akhir titrasi akan teramati. Yang pertama berkorespondensi terhadap perubahan karbonat menjadi hidrogen karbonatyang terjadi pada kisaran pH 8.3. Titik akhir titrasi yang kedua berkorespondensi terhadap pembentukan karbondioksida yang terjadi pada kisaran pH 3,8.

    Standar Primer yang lain
    Tris-(hidroksimetil)aminometana (HOCH2)3CNH2 dikenal juga dengan sebutan TIRS atau THAM dapat dipergunakan untuk alteratif standar primer. Tris atau tham ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan Na2CO3 disebabkan memiliki massa permol proton yang lebih besar. Reaksi TRIS adalah sebagai berikut,

    (HOCH2)3CNH2 + H3O+ -> (HOCH2)3CNH3+ + H2O

    Natrium tetraborat dekahidrat atau raksa(II)oksida juga dapat dipakai untuk alternatif standarisasi larutan asam. Reaksi antara asam dengan tetraborat adalah sebagai berikut.

    B4O72- + 2 H3O+ + 3 H2O -> 4H3BO3



  • Indikator Titrasi Asam Basa

    Indikator Titrasi Asam Basa

    Indikator yang di pergunakan untuk titrasi asam basa adalah zat organik yang bersifat asam lemah atau basa lemah dimana zat ini memiliki warna yang berbeda dalam bentuk basa konjugasi atau asam konjugasinya. Untuk menggambarkan bagaimana indikator ini berubah warna maka mari kita perhatikan indikator asam lemah ‘HIn’ dimana perubahan warna yang terjadi dapat dituliskan dalam bentuk reaksi sebagai berikut.

    Indikator asam lemah yang sering dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator fenolftalein (PP) dimana dalam suasana asam indikator ini tidak berwarna namun dalam suasana basa indikator ini berwarna pink (fuksia).

    reaksi perubahan indikator fenolftlaein

    Warna pink atau fuksianya adalah seperti gambar dibawah ini ,

    Untuk indikator basa lemah maka perubahan warnanya dapat ditulis dengan menggunakan reaksi sebagai berikut,

    reaksi indikator basa lemah untuk titrasi asam basa

    Untuk sesi ini kita fokus pada indikator asam lemah ya, untuk reaksi paling atas maka persamaan kesetimbangan asam lemahnya dapat ditulis sebagai berikut,

    persamaan kesetimbangan indikator asam basa

    Dari reaksi (2) diatas dapat kita ketahui bahwa konsentrasi ion hidronium ditentukan oleh perbandingan konsentrasi asam terhadap basa konjugasinya, dimana perbandingan ini akan sangat menentukan atau mengontrol perubahan warna dari indikator itu sendiri didalam larutan.

    Mata manusia memiliki keterbatasan dalam untuk mengamati perubahan warna pada larutan yang memiliki campuran antara HIn dan In- , terutama untuk perbandingan [HIn]/[In-] lenih besar dari 10 atau lebih kecil dari 0,1. Oleh sebab itu perubahan warna yang dapat diamati oleh rata-rata mata manusia adalah terbatas pada konsentrasi [HIn]/[In-] antara 0,1 sampai 10. Perbandingan yang lebih besar dari 10 atau lebih kecil dari 0,1 maka perubahan warnanya tidak akan teramati oleh mata kita.

    Sebagai hasilnya maka kita dapat menulis perbandingan [HIn]/[In-] dalam bentuk sebagai berikut,

    jika persamaan diatas kita masukan ke persamaan 2 maka kita akan mendapatkan

    indikator asam basa

    Untuk mendapatkan kisaran perubahan warna indikator maka kita menerapkan logaritna negatif dari dua persamaan diatas ,

    range ph indikator titrasi asam basa

    Persamaan diatas menunjukkan bahwa misalnya indikator asam yang memiliki konstanta disosiasi 1x10exp-5 maka akan menunjukkan perubahan warna yang jelas pada saat pH larutan dari 4-6. Berikut adalah range pH beberapa indikator yang dipergunakan dalam titras asam basa

  • Larutan Standar Titrasi Asam Basa

    Larutan Standar Titrasi Asam Basa

    Titrasi asam basa melibatkan reaksi netralisasi asam dengan basa atau sebaliknya dengan menggunakan indikator asam basa. Titrasi asam basa banyak di aplikasikan untuk menentukan jumlah asam atau basa. Sebagai tambahan titrasi asam basa juga dapat di pakai untuk memonitor perkembangan dari suatu reaksi yang menghasilkan atau mengkonsumsi ion hidrogen (H+).

    Dalam kimia klinis salah satu aplikasi dari titrasi asam basa dapat di pakai untuk penentuan aktifitas serum lipase untuk mendiagnosis adanya pankreatitis. Enzim lipase menghidrolisis asam lemak trigliserida yang menghasilkan dua molekul asam lemak dan satu molekul monogliserida dengan reaksi sebagai berikut.

    Trigliserida -> monogliserida + 2 asam lemak

    Reaksi diatas dapat dijalankan dalam periode tertentu dan selanjutnya asam lemak yang dibebaskan dapat di titrasi dengan menggunakan larutan NaOH dengan menggunakan indikator fenolpthalein (pp). Jumlah asam lemak yang terbentuk dalam waktu tertentu dapat dihubungan dengan aktifitas enzim lipase. Prinsip reaksi seperti inilah yang kita pakai untuk melakukan titrasi asam basa.

    Larutan standar titrasi asam basa

    Larutan standar yang biasa dipakai untuk titrasi asam basa adalah asam kuat atau basa kuat, disebabkan asam kuat atau basa kuat bereaksi dengan cepat dengan analit dan keduanya menghasilkan titik equivalen yang cukup tajam (jelas). Asam dan basa lemah tidak pernah dipergunakan sebagai larutan standar disebabkan mereka tidak bereaksi secara sempurna dengan analit.

    Larutan standar asam biasanya di siapkan dengan mengencerkan larutan asam klorida, asam perklorat, atau asam sulfat pekat. Asam nitrat HNO3 jarang di pakai sebagai larutan standar disebabkan HNO3 bersifat sebagai agen pengoksidasi yang kuat dimana nantinya dapat menghasilkan reaksi lain (reaksi sampingan) dari reaksi utamanya. Sedangkan larutan standar untuk basa biasanya di siapkan dari padatan NaOH , KOH, atau BaOH.

    Guna membuat larutan standar asam atau basa ini diwajibkan memakai peralatan yang mumpuni setidaknya juga memakai pelindung mata untuk berjaga-jaga terjadinya percikan ke bagaian mata.

  • Kurva Titrasi Argentometri

    Kurva Titrasi Argentometri

    Kurva titrasi Argentometri dapat dibuat dengan cara memplot antara pCl analit dengan volume larutan baku AgNO3 (contoh gambar diatas). Misalkan kita punya analit 50 mL NaCl 0.05 M yang akan ditritasi dengan larutan AgNO3 0,1 M.

    Pertama yang kita lakukan adalah menghitung pCl larutan NaCl sebelum larutan baku AgNO3 ditambahkan.

    [Cl-] = 0.05 M
    pCl = -log [Cl-] = – log (0.05) = 1.30

    Setelah itu setelah penambahan 5 mL AgNO3 0.1 M maka,

    konsentrasi [Cl-] sisa
    = mol Cl- awal – mol Ag+
    = (0,05 x 50) – (5 x 0.1)
    = 2,5 – 0,5
    = 2 mmol

    Konsentrasi Cl-
    = mol Cl- / ( volume NaCl + Vol Ag NO3)
    = 2 mmol / (50+5)
    = 0,0363

    pCl
    = -log [Cl-]
    = – log (0.0363)
    = 1,44

    Dengan menggunakan cara yang sama untuk setiap penambahan 5 mL AgNo3 maka kita akan mendapatkan data seperti berikut,

    Note
    Untuk perhitungan setelah titik ekuivalen terjadi maka kita dapat menghitung konsentrasi Cl- dengan menggunakan harga Ksp dimana konsentrasi Ag+ yang berlebih kita masukan ke dalam rumus Ksp guna mendapatkan konsentrasi Cl- seperti contoh perhitungan berikut setelah penambahan 35 mL AgNO

    Dengan mengeplot nilai pCl dengan volume AgNO3 maka gambar kurva yang kita peroleh adalah seperti gambar kurva diatas.

  • Titrimetri Pengendapan: Metode Argentometri

    Titrimetri Pengendapan: Metode Argentometri

    Titrimetri pengendapan atau presipitasi didasarkan pada reaksi yang menghasilkan senyawa yang memiliki kelarutan yang terbatas, merupakan salah satu teknik analisis yang sangat tua dimana ada sekitar tahun 800-an.

    Saat ini agen pengendap yang banyak di pergunakan dalam titrimetri pengendapan adalah silver nitrat dimana agen ini dipakai untuk menentukan ion halida serta ion yang mirip halida seperti SCN-, CN-, CNO-, merkaptan, asam lemak, dan beberapa anion organik divalen dan trivalen.

    Titrimetri yang menggunakan larutan baku berbasis perak nitrat disebut sebagai metode argentometri. Nah metode argento metri dibagi lagi menjadi tiga metode berdasarkan indikator yang di pakai dalam titrasi yaitu,

    1. Metode Mohr
      Metode Mohr adalah metode argentometri yang memakai titrasi langsung dengan larutan baku perak nitrat dan menggunakan indikator ion kromat (CrO42-). Titik akhir titrasi di ketahui dengan terbentuknya endapan Ag2CrO4 yang berwarna coklat kemerahan.
    2. Metode Volhard
      Metode Volhard adalah metode argentometri yang menggunakan titrasi kembali dengan larutan AgNO3. Kelebihan ion Ag+ nantinya di titrasi kembali dengan larutan baku SCN- dan menggunakan indikator Fe3+. Titik akhir titrasi di ketahui dengan cara terbentuknya kompleks FeSCN2+ yang berwarna merah.
    3. Metode Fajan
      Metode Fajan menggunakan titrasi langsung namun memakai indikator adsorbsi fluorescein. Kelebihan Ag+ akan mengabsorbi anion fluorescein dan menimbulkan perubahan warna menjadi pink.

    Sebenarnya penentuan titik akhir titrasi Argentometri dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu,

    1. Secara kimiawi
    2. Potensiometri
    3. Amperometri

    Secara kimiawi telah dijelaskan dengan tiga metode diatas. Sedangkan secara potensiometri, titik akhir titrasi diperoleh dengan cara mengukur potensial elektrode perak dengan elektrode referensi yang memiliki potensial konstan.

    Sedangkan secara amperometri maka diperoleh dengan cara mengukur aliran listrik yang dihasilkan dari dua mikroelektrode analit yang kemudian di plot melawan volume reagen (larutan baku).

  • Argentometri Metode Fajan

    Argentometri Metode Fajan

    Kimiawan dari Amerika Serikat bernama Kazimierz Fajan menemukan teknik Argentometri dimana indikatornya menggunakan indikator adsorbsi. Dari nama ilmuwan tersebutlah argentometri dengan metode Fajan dinamakan.

    Indikator adsorbsi adalah senyawa organik yang akan teradsorbsi pada permukaan padatan dan terjadi pada saat mendekati titik ekuivalen dengan proses teradsorbsinya indikator ini maka terjadilah perubahan warna.

    Fluorescein adalah jenis indikator umum yang di pakai dalam argentometri metode Fajan. Dalam larutan Fluorescein akan terdisosiasi menjadi ion hidronium dan ion bermuatan negatif fluoresceinate yang berwarna kuning-kehijauan.

    indikator fluorescein
    struktur indikator Fluorescein
    indikator dikloroflourescein

    Pada tahap awal titrasi ion klorida dengan perak nitrat maka akan terbentuk endapakan koloidal AgCl, ion Cl- ini teradsopssi pada permukaan AgCl sehingga indikator fluorescinate akan tertotal secara gaya elektrostatik. Semakin mendekati titik ekuivalen maka jumlah ion Cl- yang teradsorbsi akan semakin sedikit hingga tercapai titik ekuivalen maka permukaan AgCl akan dengan kuat mengadsorbsi kelebihan ion Ag+.

    reaksi argentometri metode Fajans

    Akibatnya permukaan AgCl akan bermuatan positif, nah pada saat inilah indikator fluorescinate akan teradsorbi pada counterlayer Ag+ saat indikator ini teradsorbsi maka akan terjadi perubahan warna dari kuning-kehijuan menjadi pink.

    proses perubahan warna argentometri metode fajan
    (a) saat titrasi dimulai ion Cl- teradsorbsi pada permukaan AgCl, (b) pada saat titik akhir titrasi maka kelebihan ion Ag+ teradsorbsi dengan kuat di permukaan AgCl, muatan Ag+ akan menarik indikator fluorescinate sehingga terbentuk perubahan warna menjadi pink

    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Argentometri metode Fajan

    1. pH titrasi harus dikontrol untuk menjaga terbentuknya anion asam lemah dari indikator
    2. Fluorescein memiliki harga Ka=10exp -7 dimana pada pH asam kurang dari 7 maka konsentrasi flourescenate menjadi sangat kecil sehingga tidak akan menampakkan perubahan warna
    3. AgCl tidak boleh mengalami koagulasi menjadi partikel yang besar hal ini menyebabkan berkurangnya luas permukaan sehingga akan mengurangsi adsorbsi indikator
    4. Pelindung koloid seperti dextrin ditambahkan dalam analit untuk mencegah terjadinya koagulasi AgCl.
  • Argentometri Metode Volhard

    Argentometri Metode Volhard

    Pada tahun 1874 kimiawan Jerman Jacob Volhard yang memperkenalkan metode ini. Metode ini menggunakan ion perak untuk menentukan ion halida (F-,Cl-Br_, I-) dan anion lain seperti fosfat dan kromat dalam lingkungan asam. Ion perak yang dalam keadaan berlebih pertama dituangkan ke dalam larutan analit (contohnya larutan ion halida),

    argentometri metode volhard

    selanjutnya kelebihan ion perak yang tidak bereaksi di totrasi dengan larutan baku KSCN dimana ion Fe3+ digunakan sebagai indikator.

    argentometri metode volhard

    Titik akhir titrasi diketahui dengan reaksi antara ion SCN- dengan Fe3+ membentuk senyawa kompleks yang berwarna merah.

    indikator metode volhard

    Titrasi metode Volhard harus dilakukan dalam kondisi asam untuk mencegah terbentuknya endapan Fe3+ sebagai oksida hidrat. Jika titrasi diinginkan dalam kondisi netral atau basa maka pilihan argentometri metode Mohr sebagaiknya di pergunakan.

    Konsentrasi indikator tidak terlalu significan berpengaruh pada titrasi argentometri metode Volhard. Kesalahan titrasi (titrasi eror) 1 per 1000 bagaian atau kurang dicapai pada saat konsentrasi indikator (Fe3+) antara 0,002 M sampai 1,6 M. Dalam prakteknya konsentrasi indikator lebih dari 0,2 M akan memberikan kesulitan untuk mendeteksi perubahan warna merah kompleks Fe3+ dengan ion SCN- siebabkan intensitas warna kuning dari indikator Fe3+ yang pekat. Oleh sebab itu konsentrasi indikator sekitar 0,01 M sudah cukup dapat memberikan perubahan warna yang mudah dikenali.

    Argentometri metode Volhard sangat penting untuk penentuan halida dalam lingkungan asam. Lingkungana sam yang cukup kuat adalah salah satu kelebihan dari metode ini. Dimana dalam kondisi seperti ini ion karbonat, ion oksalat, dan ion arsenat yang dapat membentuk endapan pada kondisi netral dengan ion Ag+ tidak dapat menginterfensi metode Volhard.

    Salah satu kekurangan dari metode Volhard adalah AgCl yang lebih mudah larut dibandingkan dengan AgSCN. Oleh sebab itu pada saat metode volhard dilakukan reaksi berikut,

    kekurangan metode volhard

    terjadi pada saat titrasi mendekati titik ekuivalen yang menyebabkan memudarnya warna merah kompleks FeSCN2+ yang hasilnya akan menyebabkan konsumsi larutan bagu SCN- lebih banyak. Untuk menghindari hal ini terjadi maka saat titrasi kembali dimana terbentuknya AgCl maka sebagiknya AgCl di saring terlebih dahulu sebelum kelebihan Ag+ dititrasi dengan larutan baku SCN-.

  • Argentometri Metoda Mohr

    Argentometri Metoda Mohr

    Natrium Kromat Na2CrO4 digunakan sebagai indikator untuk titrasi argentometri dalam penentuan ion klorida, bromida, sianida dengan menggunakan larutan perak nitrat sebagai larutan baku dimana perubahan indikator akan membentuk endapan berwarna merah perak kromat Ag2CrO4. reaksi yang terjadi pada titrasi argentometri menggunakan metode Mohr adalah sebagai berikut,

    Untuk titrasi argentometri penentuan Cl- maka pertana ion Ag+ akan bereaksi dengan ion Cl- membentuk endapan putih AgCl dengan reaksi sebagai berikut,

    reaksi argentometri metode mohr

    Selanjutnya pada saat ion Cl- sudah bereaksi dengan Ag+ membentuk Cl- maka sedikit kelebihan Ag+ dari buret akan bereaksi dengan indikator Na2CrO4 membentuk endapat berwarna merah Ag2CrO4 dengan reaksi berikut,

    reaksi argentometri metode mohr

    Berikut perbedaan warna dari tahap awal titrasi sampe perubahan warna indikator

    perubahan warna pada titrasi argentometri
    Gambar paling kiri adalah awal ditrasi dimana larutan sudah diberi indikator Na2CrO4, (1) saat titrasi berlangsung dimana terbentuk endapan AgCl dan (2) saat titik akhir titrasi dimana terbentuk endapan Ag2CrO4 berwarna merah kecoklatan.

    Perlu diperhatikan bahwa

    1. Titik akhir titrasi terjadi pada saat endapan berwarna coklat kemerahan Ag2CrO4 terbentuk dengan stabil (tidak menghilang saat erlenmeyer masih di gerakan) (lihat gambar paling atas)
    2. Cl- lebih reaktif bereaksi dengan Ag+ dibandingkan antara CrO42- dengan Ag+ dengan demikian endapan AgCl akan terbentuk terlebih dahulu dibandingkan dengan Ag2CrO4

    Konsentrasi ion Ag+ pada titik ekuivalen dapat ditentukan dengan menggunakan rumus berikut ini ,

    mencari konsentrasi Ag+ dalam titrasi argentometri

    Memasukan nilai konsentrasi Ag+ diatas dalam rumus Ksp Ag2CrO4 maka kita dapat menentukan konsentrasi CrO42+ yang diperlukan pada saat titik ekuivalen sebagai berikut,

    mencari konsentrasi kromat dalam titrasi argentometri

    Secara teori maka konsentrasi ion kromat yang diperlukan agar terbentuk endapat merah kecoklatan Ag2CrO4 adalah sebesar nilai diatas. Namun sayangnya konsentrasi sebesar itu membuat warna kuning lebih pekat dalam larutan yang akan dititrasi dimana intensitas warna kuning ini dapat menganggu penglihatan orang yang menitrasi untuk melihat warna merah kecoklatan endapat Ag2CrO4 untuk penentuan titik akhir titrasi. Dengan alasan tersebut maka dalam prakteknya indikator yang dipakai memiliki konsentrasi lebih kecil dari nilai diatas.

    Sebagai konsenkuensi ini maka penambahan Ag+ untuk menentukan titik akhir titrasi akan sedikit lebih banyak dari nilai yang sesungguhnya. Hal ini membuat titrasi eror nilaianya akan semakin besar. Untuk menanggulangi hal ini maka kita dapat menitrasi blanko yang bebas dari analit. Atau alternatif lain adalah dengan menstandarisasi larutan AgNO3 menggunakan standar primer NaCl.

    Kekurangan lain dari metode Mohr adalah titrasi harus dilakukan dalam kondisi pH antara 7-10 . Pada kondisi asam maka ion cromat akan berubah menjadi asam kromat hal ini akan menyebabkan berkurangya konsentrasi CrO42- sehingga akan lebih banyak membutuhkan ion Ag+ untuk dapat membentuk endapan.