Author: feriferosianat

  • Jenis Titrasi Kompleksometri Dengan Menggunakan Larutan Standar EDTA

    Jenis Titrasi Kompleksometri Dengan Menggunakan Larutan Standar EDTA

    Terdapat lima jenis teknik titrasi kompleksometri dengan menggunakan larutan standar EDTA yaitu,

    • Titrasi langsung
    • Titrasi kembali
    • Titrasi substitusi
    • Titrasi alkalimetri
    • Titrasi tidak langsung

    Titrasi langsung

    • Titrasi ini dilakukan dengan mentitrasi secara langsung larutan ion logam dengan menggunakan larutan standar EDTA
    • Larutan analit berisi ion logam yang di buffer dengan pH tertentu dan selanjutnya di titrasi dengan EDTA
    • Zat tambahan seperti tartarat dapat ditambahkan untuk mencegah timbulnya endapan hidroksida dari ion logam
    • Kation yang dapat di titrasi dengan metode langsung ini adalah Cu2+, Zn2+, dan Ni2+

    Titrasi Kembali

    • Metode ini menggunakan larutan standar EDTA berlebih yang ditambahkan ke dalam larutan ion logam
    • Larutan akan terdapat EDTA yang tidak bereaksi yang kemudian bisa dititrasi dengan menggunakan larutan standar ion logam dengan adanya indikator. Larutan ZnCl2, ZnSO4, MgCl2, dan MgSO4 dapat di pakai sebagai larutan standar ion logam
    • Kation yang dapat dilakukan titrasi dengan metode ini adalah Al3+, Co2+, Pb2+, Mn2+, Hg2+, dan Ni2+

    Titrasi Substitusi

    • Metode ini menggunakan kompleks logam-EDTA yang lebih lemah misalnya ion logam M2 yang ditambahkan ke dalam larutan ion logam M1 yang akan ditentukan kandungannya.
    • Mg-EDTA atau Zn-EDTA biasanya di pakai sebagai kompleks logam kedua yang lebih lemah
    • Kompleks logam-EDTA yang lebih lemah nantinya akan digantikan dengan kompleks logam yang lebih kuat
    • Jumlah ekuivalen logam M2 yang dibebaskan dapat dititrasi dengan larutan stdandar EDTA
    • Metode ini biasanya dapat dipergunakan untuk menentukan kation Ca2+

    Titrasi Alkalimetri

    • Metode ini menggunakan prinsip bahwa reaksi EDTA H2Y2- dengan ion logam akan membebaskan ion H+
    • Ion H+ yang di bebaskan ini dapat di titrasi dengan larutan alkali contohnya NaOH dengan menggunakan indikator yang sesuai

    Titrasi Tidak Langsung

    • Metode ini dipakai untuk menentukan ion halida, fosfat atau sulfat yang mana tidak membentuk kompleks dengan EDTA
    • Untuk menentukan SO42- misalnya maka larutan di tambahkan dengan larutan standar barium dalam keadaan berlebih
    • Endapat BaSO4 kemudian di filtrasi dan ion barium yang tidak bereaksi dengan SO42- dapat di titrasi dengan EDTA
    • Dengan cara ini maka secara tidak langsung kita dapat menentukan jumlah ion sulfat dalam analit.
  • Pembuatan & Standarisasi Larutan EDTA

    Pembuatan & Standarisasi Larutan EDTA

    Apa itu EDTA ?
    EDTA singkatan dari Ethylene Diamine Tetra Acetic acid
    EDTA memiliki empat gugus karboksilat dan dua gugus amina
    EDTA biasanya ditulis dalam bentuk asamnya dan singkat menjadi simbol H4Y

    struktur edta dan singkatannya

    Disebbakan tingkat kelarutan EDTA yang rendah dalam air maka larutan standar EDTA dalam titrasi kompleksometri biasanya di buat dari garam natriumnya yaitu garam dinatrium EDTA dihidrat atau Na2H2Y.2H2O

    garam natrium edta

    Berbagai macam bentuk EDTA dalam lingkungan yang berbeda pHnya
    EDTA dalam bentuk asam yaitu H4Y pada pH <3 Pada kisaran pH 3-10 maka spesies yang mendominasi adalah H2Y2- dan H3Y- Pada pH > 10 semua atom hidrogennya akan terprotonasi sehingga akan tinggal dalam bentuk Y4-

    EDTA adalah ligan heksadentat dimana dia dapat menyumbangkan enam pasangan elektron bebasnya untuk membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan kation untuk membentuk kompleks logam-EDTA

    struktur kompleks edta dan kation

    Aturan titrasi dengan menggunakan larutan standar EDTA

    1. Titrasi dengan menggunakan EDTA harus di lakukan dalam medium yang di buffer pada pH tertentu sesuai dengan kestabilan ion logamnya
    2. Penggunaan pH yang tepat sangat penting untuk konstanta kestabilan kompleks logam-EDTA
    3. Reaksi disosiasi asam dari EDTA, H4Y juga di pengaruhi oleh pH, dan pH ini juga berpengaruh untuk berfungsinya indikator

    Mengapa larutan EDTA perlu di standarisasi?

    • Larutan standar EDTA biasanya disiapkan dari garam natriumnya yang lebih mudah larut dalam air
    • Tidak mudah menemukan garam natrium edta dalam keadaan yang murni
    • Oleh karena itu larutan standar EDTA perlu dilakukan standarisasi

    Bagaimana melakukan standarisasi larutan EDTA dengan menggunakan ZnO ?

    • Larutan EDTA di standarisasi dengan menggunakan standar primer ZnO
    • Titrasi dilakukan dengan menggunakan buffer pH 10 dan Eriochrome Black T sebagai indikator
    • Titik akhir titrasi diamati dari perubahan warna dari ungu ke biru

    Pembuatan larutan EDTA

    • Timbang sekitar 3.8 g EDTA-2Na.2H2O dan larutkan dalam 300 mL aquades
    • Encerkan dalam labu ukur hingga volumenya 1000 mL
    • Simpan larutan ini dalam botol polietilen

    Pembuatan larutan standar primer

    • Timbang secara akurat 0.18 zat standar primer ZnO (panasakan dalam oven bersuhu 800 C hingga massanya tetap)
    • Larutkan dalam 10 mL larutan HCl 4 M
    • Encerkan hingga volumenya menjadi 250 mL

    Prosedur standarisasi

    • Pipet secara akurat 25 mL larutan EDTA dan tambahkan 1 tetes larutan 0,2% metil merah dalam etanol
    • Tambahkan larutan amoniak hingga larutan berwarna kekuningan
    • Tambahkan 25 aquades, 10 mL larutan buffer pH 10 dan 1-2 tetes indikator Eriochrome Black T
    • Lakukan titrasi dengan larutan standar primer sampai terjadi perubahan warna dari unggu ke biru
  • Indikator Titrasi Kompleksometri

    Indikator Titrasi Kompleksometri

    Metode visual yang dapat di gunakan untuk menentukan titik akhir titrasi pada titrasi kompleksometri hampir semuanya melibatkan pembentukan kompleks antara indikator dengan ion logam. Pada titrasi kompleksometri yang menggunakan EDTA sebagai titran maka pM (-log [ion logam]) mengalami kenaikan secara lambat sampai dengan dicapainya titik ekuivalen, dan pada saat semua ion logam telah membentuk kompleks dengan EDTA maka peningkatan secara tajam pada pM terjadi.

    Indikator yang digunakan dalam titrasi kompleksometri akan berubah warna pada saat semua logam telah habis bereaksi dan membentuk senyawa kompleks dengan EDTA. Perubahan ini dihasilkan dari beralihnya warna kompleks-indikator dengan warna indikator dalam keadaan bebasnya seperti yang digambarkan dalam reaksi berikut,

    reaksi perubahan warna indikator pada titrasi kompleksometri

    Perlu diingat bahwa reaksi kedua akan terjadi jika kestabilan MgY2- lebih tinggi jika dibandingkan dengan kestabilan MgInd-.

    Banyak sekali senyawa organik yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam dan menghasilkan warna tertentu akan tetapi hanya sedikit dari senyawa organik ini cocok untuk dijadikan indikator visual. Hal-hal yang menjadi perhitungan suatu indikator dapat dijadikan menjadi indikator visual dalam titrasi kompleksometri adalah sebagai berikut,

    1. Dengan menambah sejumlah kecil indikator perubahan warna yang dihasilkan sudah cukup intens
    2. Warna kontrast antara kompleks logam-indikator dengan indikator harus mudah di amati
    3. Kompleks logam-indikator memiliki kestabilan untuk memastikan perubahan warna yang dapat diamati, namun kestabilannya harus lebih rendah dibandingkan dengan kompleks logam-EDTA
    4. Perubahan kesetimbangan dari kompleks logam-indikator menjadi kompleks logam-EDTA harus terjadi dengan cepat
    5. Reaksi perubahan warna indikator harus bersifat selektif
    6. Indikator harus sensitif terhadap ion logam sehingga perubahan warna dapat dengan cepat diamati saat mendekati titik ekuivalen
    7. Indikator harus stabil dalam medium yang digunakan dalam titrasi
    8. Indikator harus stabil dalam masa penyimpanan
    9. Syarat diatas harus terpenuhi pada pH yang akan dilakukan saat titrasi
    10. Dapat dengan mudah di peroleh secara komersil dan dengan kemurnian yang tinggi

    Indikator yang dipakai untuk titrasi kompleksometri umumnya adalah pewarna organik yang di kenal dengan nama ‘indikator metalokromik’. Tabel dibawah ditampilkan indikator metalokromik beserta range pH serta kation apa saja yang dapat digunakan untuk titrasi dengan indikator tersebut. Warna kompleks logam-indikator dapat dilihat secara jelas oleh mata dikisaran konsentrasi indikator antara 10exp-6 s/d 10exp-7.

    tabel range ph indikator kompleksometri

    Eriochrome Black T
    Eriochrome Black T adalah indikator metalokromik yang sering diperrgunakan dalam titrasi kompleksomteri untuk menentukan sejumlah kation. Struktur dari Eriochrome Black T diperlihatkan dalam gambar berikut ini,

    struktur Eriochrome Black T

    Eriochrome Black T bertindak sebagai asam lemah seperti reaksi berikut ini,

    reaksi hidrolisis indikator titrasi asam basa

    Ingat bahwa bentuk asam dan basa konjugasinya memiliki warna yang berbeda. Kompleks logam dengan Eriochrome Black T umumnya berwarna merah dimana dalam bentuk H2In-. Agar indikator berfungsi dengan baik maka pH larutan di set di nilai 7 ke atas agar bentuk bebas HIn2- mendominasi begitu ion logam semuanya habis bereaksi dengan EDTA dengan reaksi

    perubahan warna indikator titrasi kompleksometri
    titrasi kompleksometri

    tabung a berisi kompleks logam-indikator yang berwarna merah MIn- sedangkan gambar c adalah bentuk indikator bebasnya yaitu HIn2- sedangkan c adalah transisi warna dalam titrasi kompleksomteri menjadi warna ungu karena campuran antara warna merah dan biru dari a dan c

  • Selayang Pandang Titrasi Kompleksometri

    Selayang Pandang Titrasi Kompleksometri

    Metode titrimetri yang didasarkan pada pembentukan senyawa kompleks disebut sebagai titrasi kompleksometri. Titrasi kompleksometri utamanya di pergunakan untuk menentukan ion logam dengan berbasis reaksi pembentukan senyawa kompleks. Meskipun agen yang di pakai untuk membentuk senyawa kompleks sangat beragam sebagai contoh sianida, tiosianat, florida, 1,2-diaminoetana dan lainnya akan tetapi dalam praktenya kompleksometri menggunakan larutan standar senyawa yang memiliki gugus ‘.asam iminodiasetat’. Senyawa jenis ini yang sering dipergunakan adalah ‘asam etilendiamintetraasetat’ disingkat EDTA dan biasanya ditulis dengan simbol H4Y. Berikut adalah struktur EDTA.

    struktur EDTA

    Akan tetapi disebabkan alasan EDTA yang memiliki kelarutan yang rendah dalam air maka bentuk garam disodium dihidrat EDTA disingkat Na2H2Y.2H2O yang dipergunakan sebagai larutan standar.

    struktur natrium edta

    Berikut kelebihan EDTA untuk titran

    1. EDTA membentuk kompleks yang stabil dengan berbagai macam ion logam
    2. Proses pembentukan senyawa kompleks terjadi dalam satu tahap dan sangat cepat hal ini membuat perubahan yang cukup tajam pada titik ekuivalen
    3. Kompleks Logam-EDTA larut dalam air
    4. Ion Logam membentuk senyawa kompleks dengan EDTA dengan perbandingan 1:1, dan hal ini tidak dipegaruhi oleh muatan dari logam tersebut.

    Reaksi antara ion logam (Men+) dengan EDTA H4Y dapat ditulis sebagai berikut,

    reaksi antara ion logam dengan edta

    dari reaksi diatas dapat diketahui adanya kompetisi antara ion logam deangn ion hidrogen untuk berikatan dengan Y2-. Kestabilan ikatan ion logam Men+ dengan Y2- diukur dengan menghitung konstanta K kesetimbangan untuk reaksi berikut

    cara menghitung konstanta kesetimbangan ion logam-EDTA

    Berikut nilai tetapan kesetimbangan EDTA dengan beberapa ion logam

    nilai konstanda kesetimbangan EDTA dengan berbagai macam ion logam

    Struktur EDTA dengan ion logam membentuk kompleks logam-edta dimana EDTA bertindak sebagai ligan heksadentat.

    Umumnya ion logam yang membentuk kompleks dengan kekuatan yang lemah membutuhkan medium dengan pH yang tidak asam (pHnya tinggi) sedangkan logam yang membentuk kompleks yang lebih kuat dengan EDTA dapat dititrasi pada pH rendah. Dari reaksi diatas dapat dilihat bahwa dihasilkan H+ sehingga untuk mencegah tidak berubahnya pH saat melakukan titrasi maka larutan harus di berikan buffer.

    struktur kompleks logam dengan EDTA

    Kurva titrasi kompleksometri dapat dibuat dengan menghitung pMe (-log [ion logam] ) dengan volume titran. Perubahan pMe di area titik akhir titrasi akan meningkat dengan meningkatnya konstanta stabilitas kompleks. Jika titrasi menggunakan deteksi titik akhir titrasi secara visual maka hal ini sangat mungkin diterapkan untuk kompleks yang memiliki konstanta kestabilan kompleks diatas 10exp7.

    Indikator yang biasa dipakai untuk titrasi komplesometri adalah pewarna organik dimana fungsinya dapat membentuk kompleks dengan ion logam yang akan di titrasi. Selama titrasi berlangsung dengan penambahan EDTA, maka EDTA ini akan menggantikan indikator yang telah berikatan dengan ion logam membentuk ikatan yang lebih stabil. Jika semua logam telah bereaksi dengan EDTA maka perubahan warna pun terjadi.

    Perubahan warna ini terjadi disebabkan warna dari ligan bebas indikator pada pH tertentu. Untuk dapat mengamati perbedaan perubahan warna indikator maka konstanta kestabilan logam-indikator tidak boleh lebih rendah dari 10exp4 – 10exp5 dan nilai ini harus lebih rendah dari nilai kontants ketabilan yang dibentuk oleh Logam-EDTA.

    Contoh indikator adalah Eriochrome Black T (H2Ind-) yang bertindak sebagai indikator asam/basa dan sebagai ion logam indikator. Eriochrome Black T dapat dipakai untuk mentitrasi kation Mg2+, Zn2+ dan Cd2+. Reaksi Eriochrome Black T yang bertindak sebagai asam lemah dapat di tulis dalam reaksi berikut,

    Titrasi biasnaya di lakukan pada pH 10. Jika kita ingin menentukan Mg2+ maka reaksi ion logam Magnesium dengan indikator dapat ditulis sebagai berikut,

    reaksi peruabahan warna pada indikator titrasi kompleksometri

    Perubahan warna dari merah (MgIn-) menjadi biru (HInd2-) akan teramati dalam penentuan titik akhir titrasi.

    Berikut perubahan warna pada titrasi kompleksometri

    perubahan warna pada titrasi kompleksometri

    (a) Warna merah ketika larutan ion logam ditambahkan indikator karena terbentuk komplek Logam-indikator (b) warna ungu terjadi saat titik akhir titrasi diamati (c) warna biru disebabkan ion indikator berada dalam keadaan bebas HInd2-

  • Soal Titrasi Campuran Na2CO3 dan NaHCO3

    Soal Titrasi Campuran Na2CO3 dan NaHCO3

    Suatu larutan mengandung campuran antara NaHCO3 dan Na2CO3. Titrasi 50 mL dari larutan ini dengan indikator fenolftalein membutuhkan 22.42 mL HCl 0.1170 M. Sedangkan titrasi kedua dengan indikator bromokresol hijau membutuhkan 48,04 mL HCl. Hitunglah konsentrasi dalam satuan Molar NaHCO3 dan Na2CO3.

    Jawab:

    Langkah pertama dalam menyelesaikan soal diatas adalah, titrasi pertama dengan indikator fenolftalein (PP) akan mengubah Na2CO3 menjadi NaHCO3 dengan reaksi sebagai berikut,

    soal-soal titrasi mata kuliah kimia analisis

    Sedangkan pada titrasi kedua dengan menggunakan indikator bromokresol hijau akan mengubah NaHCO3 (dari Na2CO3 dan NaHCO3 dari awal campuran) menjadi NaCl dengan reaksi sebagai berikut,

    soal titrasi campuran Na2CO3 dengan NaHCO3

    Jadi jumlah ml HCl yang dibutuhkan untuk menitrasi Na2CO3 adalah ,

    = 22.42 x 2
    = 44.84 mL

    Konsentrasi Na2CO3 adalah

    = M HCl x V HCl / Volume analit
    = 0.1170 x 44.84 / 50
    = 0.1049 M

    Volume HCl yang dibutuhkan untuk menitrasi NaHCO adalah
    = 48,04 mL – 44.84 mL
    = 3.2 mL

    Konsentrasi NaHCO3 adalah

    = M HCl x V HCl / Volume analit
    = 0.1170 x 3.2 / 50
    = 0.0075 M

  • Kenapa Kita Memerlukan 2 macam Indikator Untuk Menitrasi Campuran Na2CO3 dan NaHCO3 ?

    Kenapa Kita Memerlukan 2 macam Indikator Untuk Menitrasi Campuran Na2CO3 dan NaHCO3 ?

    Jika kita punya larutan yang berisi Na2CO3 dan NaHCO3 maka kita bisa melakukan titrasi larutan tersebut dengan menggunakan larutan standar HCl. Namun proses titrasi dilakukan dua kali dengan menggunakan dua indikator yang berbeda.

    Titrasi pertama kita menggunakan indikator fenolftalein (PP), setelah ditambahkan indikator pp maka larutan akan beruba menjadi berwarna ungu kemerahan (fuksia). Kamu pun menitrasi larutan ini dengan menggunakan larutan standar HCl hingga indikator pp menjadi tidak berwana. pH pada kondisi seperti ini sekitar 8,3 dimana reaksinya dapat ditulis sebagai berikut,

    reaksi antara na2CO3 dan HCl

    Dari reaksi diatas kita dapat melihat bahwa setengah jumlah Na2CO3 telah di titrasi menjadi NaHCO3. Angka yang terbaca pada buret adalah jumlah yang dibutuhkan untuk menetralisasi separuh dari jumlah Na2CO3.

    Dalam larutan sekarang kamu memiliki NaHCO3 yang telah dititrasi dengan HCl dan NaHCO3 dari larutan awal. Sekarang saatnya kamu menambahkan indikator yang kedua ke dalam larutan misalkan saja indikator yang kamu gunakan adalah metil oranye (MO). Pada titik akhir titrasi volume dari HCl yang di perlukan di titrasi kedua ini akan melebihi dua kali volume yang di butuhkan pada reaksi pertama.

    Kenapa? karena kita memiliki NaHCO3 dari Na2CO3 hasil titrasi pertama dan NaHCO3 dari larutan awal. Reaksi dari titrasi kedua ini dapat kita tulis sebagai berikut,

    titrasi cammpuran NaCO3 dan NaHCO3

    Kurva titrasi dari campuran Na2CO3 dan NaHCO3 dengan menggunakan indikator pp untuk titrasi pertama dan indikator MO untuk titrasi kedua dapat di gambarkan sebagai berikut,

    Contoh kasus.
    Kamu memiliki larutan yang berisi campuran Na2CO3 dan NaHCO3. Pada titrasi pertama dengan indikator pp maka kamu menhabiskan 8,6 mL larutan standar HCl sedangkan pada titrasi kedua dengan menggunakan indikator MO kamu menghabiskan 24,3 mL larutan HCl.

    Perhitungannya adalah sebagai berikut,

    Jumlah mL HCl yang dibutuhkan untuk mentitrasi Na2CO3 = 8,6 x 2 = 17,2 mL

    ingat saat menggunakan indikator pp maka yng dititrasi adalah separuh dari Na2CO3

    Jumlah ml HCl yang dibutuhkan untuk mentitrasi NaHCO3 = 24,3 mL – 17,2 mL = 7,1 mL

    Setelah masing masing HCl yang dibutuhkan untuk mentitrasi Na2CO3 dan NaHCO3 diketahui maka kita dengan menggunakan perhitungan kimia kita dpaat mengetahui berapa gram Na2CO3 dan NaHCO3 dalam larutan tersebut.

  • Kurva Titrasi Basa Lemah Dengan Asam Kuat

    Kurva Titrasi Basa Lemah Dengan Asam Kuat

    Artikel sebelumnya membicarakan terkait dengan titrasi asam lemah CH3COOH dengan basa kuat NaOH. Pada dasarnya perhitungan yang dipergunakan adalah sama. Namun yang membedakan adalah setelah penambahan larutan standar asam maka yang terbentuk adalah garam yang terbuat dari basa lemah dan asam kuat.

    Mari kita perhatikan contoh titrasi antara 25 mL NH3 0,1 M dengan larutan standar HCl 0,1 M dimana reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut,

    reaksi antara nh4oh dan hcl

    pH sebelum penambahan larutan standar
    Didalam erlenmeyer hanya terdapat larutan NH3, oleh sebab itu kita menghitung pH nya dengan menggunakan pH larutan basa lemah sebagai berikut,

    kurva titrasi nh4oh dengan hcl

    pH setelah penambahan 12,5 mL HCl
    Kita harus menghitung terlebih dahulu mol NH3 dan mol HCl setelah itu dengan menggunakan MBS (mulamula-Bereaksi-Sisa) kita dapat menghitung pH dari zat yang sisa bereaksi.

    kurva titrasi basah lemah dengan asam kuat

    Pada titik ini pH = pKb dan titik ini disebut sebagai titik setengah titik ekuivalen titrasi


    pH setelah penambahan 25 mL HCl
    pada saat penambahan 25 mL larutan standar HCl maka sekarang mol basa lemah akan tepat bereaksi dengan mol asam kuat, titik ekuivalen pun terjadi. Karena yang tersisa hanya garam maka kita menggunakan rumus pH garam untuk menghitung nilai pH nya

    kurva titrasi basa lemah dengan asam kuat

    pH setelah penambahan 37,5 mL HCl
    Pada saat penambahan 37,5 mL HCl maka semua basa lemah akan habis bereaksi sehingga setelah kesetimbangan maka yang tersisa hanyalah garam dan H+ dari HCl. HCl adalah asam kuat maka konsentrasi H+ dari HCl inilah yang sangat berpengaruh dalam penentuan pH larutan .

    kurva titrasi basa lemah dengan asam kuat

    Jika perhitungan diatas kita plot menjadi grafik maka diperoleh grafik seperti dibawah ini

    kurva titrasi basa lemah nh3 dengan asam kuat hcl
  • Kurva Titrasi Asam Lemah Dengan Basa Kuat

    Kurva Titrasi Asam Lemah Dengan Basa Kuat

    Cara pembuatan kurva titrasi asam lemah dengan basa kuat hampir sama dengan cara pembuatan titrasi asam kuat dengan basa kuat atau titrasi basa kuat dengan asam kuat, akan tetapi dengan dua atau lebih perhitungan ekstra disebabkan reaksi antara asam lemah dan basa kuat akan membentuk larutan buffer sebelum titik akhir titrasi dan pada saat titik ekuivalen hanya terdapat garam yang terhidrolisis sebagian.

    Mari kita perhatikan contoh titrasi 25 mL CH3COOH 0.1 M dengan larutan standar NaOH 0,1 M, dimana reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut,

    reaksi antara ch3cooh dan naOH

    Sebelum penambahan NaOH
    Pada saatlarutan standar dalam hal ini NaOH ditambahkan maka yang terdapat dalam erlenmeyer adalah asam lemah saja yaitu 25 mL CH3COOH 0,1 M, pH larutan dihitung dengan menggunakan kalkulasi sebagai berikut,

    menghitung ph asam lemah CH3COOH 0,1 M

    Saat penambahan 12,5 mL NaOH
    Pertama kita harus menghitung mol CH3COOH terlebih dahulu dan menghitung mol NaOH, setelah itu dengan menggunakan MBS (Mulamula-Bereaksi-Sisa) kita akan mendapatkan zat yang masih tersisa guna menghitung pH buffernya

    perhitungan pH titrasi asam lemah dan basa kuat

    Perlu diperhatikan bahwa pH=pKa disebabkan mol sisa asam CH3COOH (1,25 mmol) sama dengan mol basa konjugasinya CH3COONa (1,25 mmol). Pada siatuasi ini terjadi setengah mol asam sudah tertitrasi dan disebut sebagai ‘setengah titik ekuivalen titrasi’

    Saat penambahan 25 mL NaOH
    Pada saat penambahan 25 mL NaOH maka semua asam lemah akan habis bereaksi dengan basa kuat. Didalam erlenmeyer sekarang hanya tertinggal garam yang terbuat dari asam lemah dan basa kuat. Garam jenis ini mengalami hidrolisis sebagian, oleh sebab itu kita bisa menghitung pH larutan dengan menggunakan rumus pH garam.

    perhitungan kurva titrasi asam lemah dengan basa kuat

    Saat penambahan 37,5 NaOH
    Pada kondisi seperti ini jumlah NaOh sudah melebihi yang diperlukan untuk titik ekuivalen. Setelah reaksi maka dalam erlenmeyer hanya terdapat garam CH3COONa dan sisa OH- dari NaOH. Maka perhitungan pH hanya tergantung pada konsentrasi OH- dan pH dihitung dengan rumus

    perhitungan kurva titrasi asam lemah dengan basa kuat

    Dari perhitungan diatas jika digambar dalam bentuk kurva antara Ph melawan volume NaOH akan diperoleh gambar seperti ini

    Hal -hal yang perlu diperhatikan dalam kurva titrasi asam lemah dan basa kuat adalah sebagai berikut,

    1. Pada saat awal titrasi sebelum ditambahkan larutan standar NaOH maka yang ada dalam erlenmeyer adalah asam lemah sehingga kita menggunakan rumus pH asam lemah untuk mencari nilai pHnya. pH awal titrasi lebih tinggi dibandingkan dengan titrasi asam kuat dengan basa kuat atau sebaliknya.
    2. Setelah larutan standar ditambahkan sampai mendektati titik ekuivalen maka kurva mengalami peningkatan. Pada area ini terbentuk larutan buffer. pH di area buffer ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus pH larutan penyangga. Kurva mengalami kenaikan sampai batas kapasitas buffernya yaitu hingga titik ekuivalen.
    3. Pada saat titik ekuivalen maka didalam larutan hanya terdapat garam, untuk kasus titrasi asam lemah CH3COOH dengan NaOH maka garam yang terbentuk adalah CH3COONa yaitu garam yang terbuat dari asam lemah dan basa kuat. Garam ini akan terhidrolisis sebagian. Gunakan rumus pH garam pada titik ekuivalen.
    4. Saat larutan standar yang ditambahkan melebihi jumlah yang di perlukan di titik ekuivalen maka yang ada dalam erlenmeyer adalah garam plus OH- dari sisa NaOH yang tidak bereaksi. NaOH adalah basa kuat maka pH yang mempengaruhi hanya dari konsentrasi OH- bukan konsentrasi garamnya.
  • Kurva Titrasi Basa Kuat Dengan Asam Kuat

    Kurva Titrasi Basa Kuat Dengan Asam Kuat

    Pembuatan kurva titrasi untuk basa kuat dan asam kuat dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti saat kita membuat kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat.

    Cek disini cara membuat kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat

    Sekarang marilah kita perhatikan contoh titrasi 0.1 M NaOH 25 mL dengan 0,1 M HCl.

    pH saat penambahan 0 mL HCl
    Didalam larutan hanya terdapat 0,1 M NaOH 25 mL maka kita harus mencari mol mula-mula NaOH dan kemudian mencari pH nya

    pOH = – log [OH-] = – log [0,1] = 1
    pH = 14 -1 = 13

    pH saat penambahan 5 mL HCl
    Pertama kit amenghitung mol HCl dan kemudian membuat perhitungan MBS (mulamula-bereaksii-sisa) untuk mencari berapa sisa NaOH yang terdapat didalam erlenmeyer dengan perhitungan sebagai berikut. Ingat sisa mol NaOH harus dibagi dengan volume total (vol NaOH + vol penambahan HCl)

    kurva titrasi basa kuat dengan asam kuat

    Untuk penambahan 10 mL – 24,9 mL maka kita dapat menggunakan perhitungan yang sama seperti diatas ya. Yang perlu diperhatikan disini adalah bahwa semakin mendekati titik ekuivalen maka jumlah mol H+ akan mendekati jumlah mol OH-

    pH penambahan 25 mL HCl
    Saat penambahan 25 mL HCl maka mol asam adalah 2,5 mmol sedangkan mol basa NaOH juga 2,5 mmol. Artinya jumlah mol asam sama dengan jumlah mol basa dan karena perbandingan mol reaksi antara NaOH dan HCl adalah 1:1 maka baik HCl dan NaOH akan habis bereaksi sehingga yang tertinggal sekarang adalah garam NaCl.

    NaCl adalah garam yang terbuat dari asam kuat dan basa kuat dalam larutan tidak terhidrolisis sehingga pH nya adalah 7.

    pH setelah penambahan 30 mL HCl
    Setelah penambahan 30 mL HCl maka mol asam klorida adalah 3,0 mmol sedangkan mol basa 2,5 mmol, ini artinya saat ini ada kelebihan basa sebesar 0,5 mmol, dan pH nya dapat dicari dengan menggunakan rumus

    Untuk menghitung pH penambahan HCl dari 35 mL sampai 50 mL kita bisa menggunakan perhitungan yang sama seperti diatas ya . Dan jika di plot kurvanya akan tampak seperti gambar berikut ini,

    kurva titrasi antara 0,1 NaOh dengan 0,1 HCl

  • Kurva Titrasi Asam Kuat dengan Basa Kuat

    Kurva Titrasi Asam Kuat dengan Basa Kuat

    Pembuatan kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat dapat dilakukan dengan memplot antara pH analit dengan volume titran yang ditambahkan. Untuk lebih mudahnya kita dapat membagi area kurva ini menjadi perhitungan kedalam tiga area yang berbeda yaitu,

    1. praekuivalen
    2. saat titik ekuivalen
    3. setelah titik ekuvalen

    Yuk kita contohkan kita akan menitrasi larutan asam kuat 0,1 M HCl 25 mL dengan titran larutan 0,1 NaOH. Reaksi yang terbentuk adalah sebagai berikut,

    reaksi antara HCl dengan NaOH

    pH saat sebelum penambahan NaOH
    Pada saat belum titambahkan NaOH maka dalam erlenmeyer hanya terdapat larutan 0.1 M HCl 25 mL maka pH larutan di cari dengan menggunakan rumus berikut ini,

    menghitung pH 0,1 M HCl

    pH saat penambahan 5 mL NaOH
    Untuk menghitung pH setelah penambahan 5 mL NaOH 0.1 M maka kita harus menghitung terlebih dahulu mol HCl mula-mula begitu juga dengan ada berapa mol NaOH dalam 5 mL NaOH 0,1 M. Setelah itu tinggal kita menggunakan rumus MBS (Mulamula-Bereaksi-Sisa) untuk menghitung pH nya

    pH saat penambahan 10 mL NaOH sampai 24,9 mL NaOH
    Untuk perhitungan pH penambahan 10 mL sampai dengan 24,9 mL NaOH maka perhitungannya adalah sama seperti perhitungan diatas ya.

    pH saat Penambahan 25 mL NaOH
    Pada saat penambahan 25 mL NaOH maka mol NaOH adalah 2,5 mmol sedangkan mol HCl juga 2,5 mmol, maka baik NaOH dan HCl sama-sama habis bereaksi sehingga dalam larutan saat ini hanya ada NaCl. Masih ingat kan NaCl adalah garam dari asam kuat dan basa kuat, garam ini tidak terhidrolisis sehingga pH nya adalah 7.

    pH saat penambahan 30 mL NaOH
    Saat penambahan 30 mL maka sekaranh mol NaOH adalah 3,0 mmol dan mol HCl adalah 2,5 mmol maka sekarang yang berlebih adalah NaOH sebanyak 0,5 mmol, untuk mencari molaritas NaOH nya maka tinggal membagi mol dengan volume total larutan 0,5 mmol/55 mL.

    Untuk penambahan 35-50 mL NaOH kita menggunakan perhitungan yang sama ya

    Dengan cara perhitungan diatas maka kita dapat merangkum perhitungan pH nya seperti tabel dibawah ini ,

    Dan kurvanya dapat digambarkan sebagai berikut,

    kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat HCl dengan NaOH

    Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam membuat kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat

    1. Perubahan pH saat awal titrasi berjalan lambat
    2. Titik ekuivalen terjadi pada pH 7 disebabkan jumlah mol asam yang bereaksi dengan basa adalah sama dan yang dihasilkan adalah garam dari asam kuat dan basa kuat.
    3. Mendekati titik ekuvalen maka konsentrasi H+ mendekatai sama dengan konsentrasi OH-, oleh sebab itu penambahan sedikit NaOh akan dapat membawa perubahan pH yang cukup besar
    4. Setelah titik ekuvalen maka sepsies yang paling dominan adalah OH- disebabkan NaOh sekarang berada dalam kondisi berlebih