Suatu larutan mengandung campuran antara NaHCO3 dan Na2CO3. Titrasi 50 mL dari larutan ini dengan indikator fenolftalein membutuhkan 22.42 mL HCl 0.1170 M. Sedangkan titrasi kedua dengan indikator bromokresol hijau membutuhkan 48,04 mL HCl. Hitunglah konsentrasi dalam satuan Molar NaHCO3 dan Na2CO3.
Jawab:
Langkah pertama dalam menyelesaikan soal diatas adalah, titrasi pertama dengan indikator fenolftalein (PP) akan mengubah Na2CO3 menjadi NaHCO3 dengan reaksi sebagai berikut,
Sedangkan pada titrasi kedua dengan menggunakan indikator bromokresol hijau akan mengubah NaHCO3 (dari Na2CO3 dan NaHCO3 dari awal campuran) menjadi NaCl dengan reaksi sebagai berikut,
Jadi jumlah ml HCl yang dibutuhkan untuk menitrasi Na2CO3 adalah ,
= 22.42 x 2 = 44.84 mL
Konsentrasi Na2CO3 adalah
= M HCl x V HCl / Volume analit = 0.1170 x 44.84 / 50 = 0.1049 M
Volume HCl yang dibutuhkan untuk menitrasi NaHCO adalah = 48,04 mL – 44.84 mL = 3.2 mL
Konsentrasi NaHCO3 adalah
= M HCl x V HCl / Volume analit = 0.1170 x 3.2 / 50 = 0.0075 M
Jika kita punya larutan yang berisi Na2CO3 dan NaHCO3 maka kita bisa melakukan titrasi larutan tersebut dengan menggunakan larutan standar HCl. Namun proses titrasi dilakukan dua kali dengan menggunakan dua indikator yang berbeda.
Titrasi pertama kita menggunakan indikator fenolftalein (PP), setelah ditambahkan indikator pp maka larutan akan beruba menjadi berwarna ungu kemerahan (fuksia). Kamu pun menitrasi larutan ini dengan menggunakan larutan standar HCl hingga indikator pp menjadi tidak berwana. pH pada kondisi seperti ini sekitar 8,3 dimana reaksinya dapat ditulis sebagai berikut,
Dari reaksi diatas kita dapat melihat bahwa setengah jumlah Na2CO3 telah di titrasi menjadi NaHCO3. Angka yang terbaca pada buret adalah jumlah yang dibutuhkan untuk menetralisasi separuh dari jumlah Na2CO3.
Dalam larutan sekarang kamu memiliki NaHCO3 yang telah dititrasi dengan HCl dan NaHCO3 dari larutan awal. Sekarang saatnya kamu menambahkan indikator yang kedua ke dalam larutan misalkan saja indikator yang kamu gunakan adalah metil oranye (MO). Pada titik akhir titrasi volume dari HCl yang di perlukan di titrasi kedua ini akan melebihi dua kali volume yang di butuhkan pada reaksi pertama.
Kenapa? karena kita memiliki NaHCO3 dari Na2CO3 hasil titrasi pertama dan NaHCO3 dari larutan awal. Reaksi dari titrasi kedua ini dapat kita tulis sebagai berikut,
Kurva titrasi dari campuran Na2CO3 dan NaHCO3 dengan menggunakan indikator pp untuk titrasi pertama dan indikator MO untuk titrasi kedua dapat di gambarkan sebagai berikut,
Contoh kasus. Kamu memiliki larutan yang berisi campuran Na2CO3 dan NaHCO3. Pada titrasi pertama dengan indikator pp maka kamu menhabiskan 8,6 mL larutan standar HCl sedangkan pada titrasi kedua dengan menggunakan indikator MO kamu menghabiskan 24,3 mL larutan HCl.
Perhitungannya adalah sebagai berikut,
Jumlah mL HCl yang dibutuhkan untuk mentitrasi Na2CO3 = 8,6 x 2 = 17,2 mL
ingat saat menggunakan indikator pp maka yng dititrasi adalah separuh dari Na2CO3
Jumlah ml HCl yang dibutuhkan untuk mentitrasi NaHCO3 = 24,3 mL – 17,2 mL = 7,1 mL
Setelah masing masing HCl yang dibutuhkan untuk mentitrasi Na2CO3 dan NaHCO3 diketahui maka kita dengan menggunakan perhitungan kimia kita dpaat mengetahui berapa gram Na2CO3 dan NaHCO3 dalam larutan tersebut.
Artikel sebelumnya membicarakan terkait dengan titrasi asam lemah CH3COOH dengan basa kuat NaOH. Pada dasarnya perhitungan yang dipergunakan adalah sama. Namun yang membedakan adalah setelah penambahan larutan standar asam maka yang terbentuk adalah garam yang terbuat dari basa lemah dan asam kuat.
Mari kita perhatikan contoh titrasi antara 25 mL NH3 0,1 M dengan larutan standar HCl 0,1 M dimana reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut,
pH sebelum penambahan larutan standar Didalam erlenmeyer hanya terdapat larutan NH3, oleh sebab itu kita menghitung pH nya dengan menggunakan pH larutan basa lemah sebagai berikut,
pH setelah penambahan 12,5 mL HCl Kita harus menghitung terlebih dahulu mol NH3 dan mol HCl setelah itu dengan menggunakan MBS (mulamula-Bereaksi-Sisa) kita dapat menghitung pH dari zat yang sisa bereaksi.
Pada titik ini pH = pKb dan titik ini disebut sebagai titik setengah titik ekuivalen titrasi
pH setelah penambahan 25 mL HCl pada saat penambahan 25 mL larutan standar HCl maka sekarang mol basa lemah akan tepat bereaksi dengan mol asam kuat, titik ekuivalen pun terjadi. Karena yang tersisa hanya garam maka kita menggunakan rumus pH garam untuk menghitung nilai pH nya
pH setelah penambahan 37,5 mL HCl Pada saat penambahan 37,5 mL HCl maka semua basa lemah akan habis bereaksi sehingga setelah kesetimbangan maka yang tersisa hanyalah garam dan H+ dari HCl. HCl adalah asam kuat maka konsentrasi H+ dari HCl inilah yang sangat berpengaruh dalam penentuan pH larutan .
Jika perhitungan diatas kita plot menjadi grafik maka diperoleh grafik seperti dibawah ini
Cara pembuatan kurva titrasi asam lemah dengan basa kuat hampir sama dengan cara pembuatan titrasi asam kuat dengan basa kuat atau titrasi basa kuat dengan asam kuat, akan tetapi dengan dua atau lebih perhitungan ekstra disebabkan reaksi antara asam lemah dan basa kuat akan membentuk larutan buffer sebelum titik akhir titrasi dan pada saat titik ekuivalen hanya terdapat garam yang terhidrolisis sebagian.
Mari kita perhatikan contoh titrasi 25 mL CH3COOH 0.1 M dengan larutan standar NaOH 0,1 M, dimana reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut,
Sebelum penambahan NaOH Pada saatlarutan standar dalam hal ini NaOH ditambahkan maka yang terdapat dalam erlenmeyer adalah asam lemah saja yaitu 25 mL CH3COOH 0,1 M, pH larutan dihitung dengan menggunakan kalkulasi sebagai berikut,
Saat penambahan 12,5 mL NaOH Pertama kita harus menghitung mol CH3COOH terlebih dahulu dan menghitung mol NaOH, setelah itu dengan menggunakan MBS (Mulamula-Bereaksi-Sisa) kita akan mendapatkan zat yang masih tersisa guna menghitung pH buffernya
Perlu diperhatikan bahwa pH=pKa disebabkan mol sisa asam CH3COOH (1,25 mmol) sama dengan mol basa konjugasinya CH3COONa (1,25 mmol). Pada siatuasi ini terjadi setengah mol asam sudah tertitrasi dan disebut sebagai ‘setengah titik ekuivalen titrasi’
Saat penambahan 25 mL NaOH Pada saat penambahan 25 mL NaOH maka semua asam lemah akan habis bereaksi dengan basa kuat. Didalam erlenmeyer sekarang hanya tertinggal garam yang terbuat dari asam lemah dan basa kuat. Garam jenis ini mengalami hidrolisis sebagian, oleh sebab itu kita bisa menghitung pH larutan dengan menggunakan rumus pH garam.
Saat penambahan 37,5 NaOH Pada kondisi seperti ini jumlah NaOh sudah melebihi yang diperlukan untuk titik ekuivalen. Setelah reaksi maka dalam erlenmeyer hanya terdapat garam CH3COONa dan sisa OH- dari NaOH. Maka perhitungan pH hanya tergantung pada konsentrasi OH- dan pH dihitung dengan rumus
Dari perhitungan diatas jika digambar dalam bentuk kurva antara Ph melawan volume NaOH akan diperoleh gambar seperti ini
Hal -hal yang perlu diperhatikan dalam kurva titrasi asam lemah dan basa kuat adalah sebagai berikut,
Pada saat awal titrasi sebelum ditambahkan larutan standar NaOH maka yang ada dalam erlenmeyer adalah asam lemah sehingga kita menggunakan rumus pH asam lemah untuk mencari nilai pHnya. pH awal titrasi lebih tinggi dibandingkan dengan titrasi asam kuat dengan basa kuat atau sebaliknya.
Setelah larutan standar ditambahkan sampai mendektati titik ekuivalen maka kurva mengalami peningkatan. Pada area ini terbentuk larutan buffer. pH di area buffer ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus pH larutan penyangga. Kurva mengalami kenaikan sampai batas kapasitas buffernya yaitu hingga titik ekuivalen.
Pada saat titik ekuivalen maka didalam larutan hanya terdapat garam, untuk kasus titrasi asam lemah CH3COOH dengan NaOH maka garam yang terbentuk adalah CH3COONa yaitu garam yang terbuat dari asam lemah dan basa kuat. Garam ini akan terhidrolisis sebagian. Gunakan rumus pH garam pada titik ekuivalen.
Saat larutan standar yang ditambahkan melebihi jumlah yang di perlukan di titik ekuivalen maka yang ada dalam erlenmeyer adalah garam plus OH- dari sisa NaOH yang tidak bereaksi. NaOH adalah basa kuat maka pH yang mempengaruhi hanya dari konsentrasi OH- bukan konsentrasi garamnya.
Pembuatan kurva titrasi untuk basa kuat dan asam kuat dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti saat kita membuat kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat.
Cek disini cara membuat kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat
Sekarang marilah kita perhatikan contoh titrasi 0.1 M NaOH 25 mL dengan 0,1 M HCl.
pH saat penambahan 0 mL HCl Didalam larutan hanya terdapat 0,1 M NaOH 25 mL maka kita harus mencari mol mula-mula NaOH dan kemudian mencari pH nya
pH saat penambahan 5 mL HCl Pertama kit amenghitung mol HCl dan kemudian membuat perhitungan MBS (mulamula-bereaksii-sisa) untuk mencari berapa sisa NaOH yang terdapat didalam erlenmeyer dengan perhitungan sebagai berikut. Ingat sisa mol NaOH harus dibagi dengan volume total (vol NaOH + vol penambahan HCl)
Untuk penambahan 10 mL – 24,9 mL maka kita dapat menggunakan perhitungan yang sama seperti diatas ya. Yang perlu diperhatikan disini adalah bahwa semakin mendekati titik ekuivalen maka jumlah mol H+ akan mendekati jumlah mol OH-
pH penambahan 25 mL HCl Saat penambahan 25 mL HCl maka mol asam adalah 2,5 mmol sedangkan mol basa NaOH juga 2,5 mmol. Artinya jumlah mol asam sama dengan jumlah mol basa dan karena perbandingan mol reaksi antara NaOH dan HCl adalah 1:1 maka baik HCl dan NaOH akan habis bereaksi sehingga yang tertinggal sekarang adalah garam NaCl.
NaCl adalah garam yang terbuat dari asam kuat dan basa kuat dalam larutan tidak terhidrolisis sehingga pH nya adalah 7.
pH setelah penambahan 30 mL HCl Setelah penambahan 30 mL HCl maka mol asam klorida adalah 3,0 mmol sedangkan mol basa 2,5 mmol, ini artinya saat ini ada kelebihan basa sebesar 0,5 mmol, dan pH nya dapat dicari dengan menggunakan rumus
Untuk menghitung pH penambahan HCl dari 35 mL sampai 50 mL kita bisa menggunakan perhitungan yang sama seperti diatas ya . Dan jika di plot kurvanya akan tampak seperti gambar berikut ini,
Pembuatan kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat dapat dilakukan dengan memplot antara pH analit dengan volume titran yang ditambahkan. Untuk lebih mudahnya kita dapat membagi area kurva ini menjadi perhitungan kedalam tiga area yang berbeda yaitu,
praekuivalen
saat titik ekuivalen
setelah titik ekuvalen
Yuk kita contohkan kita akan menitrasi larutan asam kuat 0,1 M HCl 25 mL dengan titran larutan 0,1 NaOH. Reaksi yang terbentuk adalah sebagai berikut,
pH saat sebelum penambahan NaOH Pada saat belum titambahkan NaOH maka dalam erlenmeyer hanya terdapat larutan 0.1 M HCl 25 mL maka pH larutan di cari dengan menggunakan rumus berikut ini,
pH saat penambahan 5 mL NaOH Untuk menghitung pH setelah penambahan 5 mL NaOH 0.1 M maka kita harus menghitung terlebih dahulu mol HCl mula-mula begitu juga dengan ada berapa mol NaOH dalam 5 mL NaOH 0,1 M. Setelah itu tinggal kita menggunakan rumus MBS (Mulamula-Bereaksi-Sisa) untuk menghitung pH nya
pH saat penambahan 10 mL NaOH sampai 24,9 mL NaOH Untuk perhitungan pH penambahan 10 mL sampai dengan 24,9 mL NaOH maka perhitungannya adalah sama seperti perhitungan diatas ya.
pH saat Penambahan 25 mL NaOH Pada saat penambahan 25 mL NaOH maka mol NaOH adalah 2,5 mmol sedangkan mol HCl juga 2,5 mmol, maka baik NaOH dan HCl sama-sama habis bereaksi sehingga dalam larutan saat ini hanya ada NaCl. Masih ingat kan NaCl adalah garam dari asam kuat dan basa kuat, garam ini tidak terhidrolisis sehingga pH nya adalah 7.
pH saat penambahan 30 mL NaOH Saat penambahan 30 mL maka sekaranh mol NaOH adalah 3,0 mmol dan mol HCl adalah 2,5 mmol maka sekarang yang berlebih adalah NaOH sebanyak 0,5 mmol, untuk mencari molaritas NaOH nya maka tinggal membagi mol dengan volume total larutan 0,5 mmol/55 mL.
Untuk penambahan 35-50 mL NaOH kita menggunakan perhitungan yang sama ya
Dengan cara perhitungan diatas maka kita dapat merangkum perhitungan pH nya seperti tabel dibawah ini ,
Dan kurvanya dapat digambarkan sebagai berikut,
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam membuat kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat
Perubahan pH saat awal titrasi berjalan lambat
Titik ekuivalen terjadi pada pH 7 disebabkan jumlah mol asam yang bereaksi dengan basa adalah sama dan yang dihasilkan adalah garam dari asam kuat dan basa kuat.
Mendekati titik ekuvalen maka konsentrasi H+ mendekatai sama dengan konsentrasi OH-, oleh sebab itu penambahan sedikit NaOh akan dapat membawa perubahan pH yang cukup besar
Setelah titik ekuvalen maka sepsies yang paling dominan adalah OH- disebabkan NaOh sekarang berada dalam kondisi berlebih
Terdapat dua jenis titrasi eror pada titrasi asam basa yang berhubungan dengan indikator. Titrasi eror pertama terjadi pada saat kesalahan menentukan perbedaan pH antara pH pada saat indikator berubah warna dengan pH titik ekuivalen. Apabila terjadi hal yang demikian maka solusinya adalah dengan cara memilih jenis indikator yang nantinya akan dipergunakan dalam titrasi atau dengan membuat koreksi dengan titrasi blanko.
Jenis titrasi eror yang kedua adalah berasal dari keterbatasan penghilatan mata orang yang melakukan titrasi untuk mengamati perubahan warna walau perubahannya sangat kecil. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kualitas pengulangan titrasi yang akan dilakukan. Bisa saja warna pengyulangan titrasi yang kedua dan seterusnya memiliki perbedaan warna pada titrasi yang pertama.
Besarnya kesalahan yang menyebabkan hal tersebut terjadi dipengaruhi oleh perubahan pH permililiter reagent pada saat terjadinya titik ekuivalen, konsentrasi indikator, dan sensitifitas mata pengamat saat terjadinya perubahan warna indikator.
Rata-rata ketidakpastian visual saat kita menggunakan indikator pada titrasi asam basa adalah antara +-0,5 s/d +-1 unit pH. Ketidakpastian ini dapat diperkecil hingga -+0,1 unit pH dengan cara mencocokan warna larutan yang telah dititrasi dengan larutan yang berisi sejumlah indikator yang sama pada pH tertentu.
Variabel yang menentukan perubahan sifat indikator Interval pH pada saat indikator mengalami perubahan warna dipengaruhi oleh temperatur, kekuatan ion dari spesies yang terdapat di dalam larutan, adanya kehadiran pelarut organik, dan adanya partikel koloid. Dua yang disebutkan terakhir dapat menyebabkan pergeseran pH perubahan warna indikator sampai dengan 1 atau lebih unit pH.
Indikator Umum Yang di pergunakan pada titrasi asam basa Daftar di bawah ini adalah beberapa indikator yang biasa dipergunakan untuk titrasi asam basa, beserta range pH indikator masing-masing. Perlu diperhatikan bahwa range pH indikator dibawah ini berkisar antara 1,1-2.2 dengan rata-rata 1,6 .
Larutan standar basa yang sering di pakai untuk titrasi asam basa adalah NaOH meskipun KOH dan Ba(OH)2 juga sering di pakai. Baik NaOH, KOH, dan Ba(OH)2 bukan merupakan standar primer maka larutan standar ini harus di standarisasi sebelum di pergunakan untuk keperluan titrasi.
Pengaruh CO2 pada larutan standar basa Baik dalam bentuk larutan ataupun padatannya, hidroksida dari natrium, kalium, serta barium bereaksi dengan cepat dengan CO2 dari udara dengan reaksi sebagai berikut,
Untuk titrasi yang menggunakan indikator dengan dengan transisi asam (seperti bromocreasol green) maka pengaruh absorbsi CO2 terhadap larutan standar ini tidak akan menyebabkan titrasi eror disebabkan setiap ion karbonat yang dihasilkan dari reaksi antara NaOH atau KOH akan juga bereaksi dengan dua ion hidronium dengan reaksi sebagai berikut,
Sayangnya jika titrasi menggunakan indikator dengan transisi basa (contohnya fenolftalein) maka penyerapan CO2 oleh larutan standar NaOH atau KOH akan berpengaruh menyebabkan sistematik eror yang biasa disebut dengan ‘karbonat eror’. Hal ini disebabkan setiap ion karbonat CO32- hanya bereaksi dengan satu ion hidronium
Cara terbaik menyiapkan larutan standar basa Cara terbaik untuk menyiapkan larutan standar basa contohnya NaOH yang bebas dari CO2 adalah dengan menyiapkan larutan standar yang lebih pekat yaitu dengan konsentrasi 50% NaOH disebabkan CO2 memiliki kelarutan yang rendah dalam larutan NaOH pekat. Selanjutnya larutan ini bisa diencerkan dengan sampai konsentrasi yang diinginkan jika ingin melakukan titrasi.
Air yang dipergunakan untuk penyiapan larutan standar basa juga harus bebas dari CO2. Air yang berada dalam kesetimbangan dengan atmostfer memiliki konsentrasi CO2 sekitar 1,5x10exp-3 mol/L olah sebab itu air distilasi sebelum di pakai untuk melarutkan NaOH harus dididhkan terlebih dahulu untuk menghilangkan kandungan CO2 ini. Cara lain adalah dengan mengalirkan gas inert kedalam air distilasi. Proses penghilangan gas dari larutan dengan cara mengalirkan gas inert kedalamnya ini disebut sebagai ‘sparging’.
Botol yang terbuat dari polietilen yang memiliki penutup rapat dipergunakan untuk menyimpan larutan standar basa untuk menghindari reaksi larutan dengan CO2. Yang perlu diperhatikan adalah sebelum menutup botol maka, Anda bisa memencet botol terlebih dahulu untuk mengeluarkan udara yang ada dalam botol sehingga kita dapat mengurangi gas yang terjebak didalam botol sebelum kita menutupnya.
Konsentrasi larutan NaOH akan berkurang sekitar 0,1% sampai 0,3% per minggu jika larutan ini disimpan dalam botol kaca. Hal ini terjadi disebbakan reaksi NaOH dengan kaca untuk membentuk silikat. Dengan alasan inilah larutan standar basa tidak boleh disimpan dalam botol kaca dalam periode lebih dari 1 atau 2 minggu dalam botol yang terbuat dari kaca.
Standarisasi larutan basa Beberapa zat dapat di pakai untuk proses standarisasi larutan standar basa, umumnya yang dipakai adalah asam organik lemah yang menggunakan indikator dengan transisi basa.
Kalium hidrogen ftalat Kalium hidrogen ftalat KHC8H4O4 adalah zat ideal untuk standarisasi larutan basa. Zat non hidroskopik berwarna putih yang memiliki massa molar yang cukup tinggi (202,2 g/mol). Jika Anda memberi dalam bentuk garam dengan grade analitikal maka zat ini tidak perlu dimurnikan lagi.
Zat standar primer lain untuk standarisasi larutan basa Asam bensoat dengan grade analitikal bisa dipakai untuk standarisasi larutan basa. Disebabkan kelarutan zat ini dalam air sangat terbatas maka asam benzoat dapat dilarutkan dalam etanol selanjutnya diencerkan dengan air distilasi. Jangan lupa titrasi blanko diperlukan untuk mengurangi titrasi eror sebab komersial etanol biasanya bersifat sedikit asam.
Zat lain yang dapat dipakai adalah kalium hidrogen iodat KH(IO3)2. KH(IO3)2 adaalah zat standar primer yang baik pula untuk standarisasi larutan satndar basa disebabkan dia merupakan asam kuat dan memiliki massa molar yang tinggi per mol proton. Dapat digunakan dengan berbagai macam indikator dengan titrasi yang dilakukan pada kisaran pH 4-10.
Larutan standar asam untuk titrasi asam basa biasanya dipakai dari asam klorida HCl, asam perklorat HClO4, atau asam sulfat H2SO4. Larutan asam nitrat jarang dipakai untuk menjadi larutan standar disebabkan sifat oksidatornya.
HCl banyak dipergunakan untuk titrasi asam basa disebabkan HCl tidak banyak menghasilkan endapan klorida dengan sejumlah banyak kation. Jika kation pada analit yang akan di titrasi menyebabkan endapan klorida maka larutan standar dapat dipakai HClO4 atau H2SO4. Larutan standar asam biasanya di siapkan dengan cara mengencerkan sejumlah volume tertentu larutan pekat asam kemudian di standarisasi dengan standar primer.
Zat apa sajakah yang dapat dipakai untuk proses standarisasi larutan asam untuk titrasi asam basa?
Natrium Karbonat Larutan asam biasanya di standarisasi dengan menggunakan standar primer natrium karbonat Na2CO3. Padatan Na2CO3 grade analisis dijual secara komersial atau jika tidak ada bisa menggunakan NaHCO3 yang dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 270 C – 300 C selama 1 jam ,
2NaHCO3(s) -> Na2CO3(s) + H2O(g) + CO2(g)
Dengan menggunakan Na2CO3 sebagai standar primer maka dua titik akhir titrasi akan teramati. Yang pertama berkorespondensi terhadap perubahan karbonat menjadi hidrogen karbonatyang terjadi pada kisaran pH 8.3. Titik akhir titrasi yang kedua berkorespondensi terhadap pembentukan karbondioksida yang terjadi pada kisaran pH 3,8.
Standar Primer yang lain Tris-(hidroksimetil)aminometana (HOCH2)3CNH2 dikenal juga dengan sebutan TIRS atau THAM dapat dipergunakan untuk alteratif standar primer. Tris atau tham ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan Na2CO3 disebabkan memiliki massa permol proton yang lebih besar. Reaksi TRIS adalah sebagai berikut,
(HOCH2)3CNH2 + H3O+ -> (HOCH2)3CNH3+ + H2O
Natrium tetraborat dekahidrat atau raksa(II)oksida juga dapat dipakai untuk alternatif standarisasi larutan asam. Reaksi antara asam dengan tetraborat adalah sebagai berikut.
Indikator yang di pergunakan untuk titrasi asam basa adalah zat organik yang bersifat asam lemah atau basa lemah dimana zat ini memiliki warna yang berbeda dalam bentuk basa konjugasi atau asam konjugasinya. Untuk menggambarkan bagaimana indikator ini berubah warna maka mari kita perhatikan indikator asam lemah ‘HIn’ dimana perubahan warna yang terjadi dapat dituliskan dalam bentuk reaksi sebagai berikut.
Indikator asam lemah yang sering dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator fenolftalein (PP) dimana dalam suasana asam indikator ini tidak berwarna namun dalam suasana basa indikator ini berwarna pink (fuksia).
Warna pink atau fuksianya adalah seperti gambar dibawah ini ,
Untuk indikator basa lemah maka perubahan warnanya dapat ditulis dengan menggunakan reaksi sebagai berikut,
Untuk sesi ini kita fokus pada indikator asam lemah ya, untuk reaksi paling atas maka persamaan kesetimbangan asam lemahnya dapat ditulis sebagai berikut,
Dari reaksi (2) diatas dapat kita ketahui bahwa konsentrasi ion hidronium ditentukan oleh perbandingan konsentrasi asam terhadap basa konjugasinya, dimana perbandingan ini akan sangat menentukan atau mengontrol perubahan warna dari indikator itu sendiri didalam larutan.
Mata manusia memiliki keterbatasan dalam untuk mengamati perubahan warna pada larutan yang memiliki campuran antara HIn dan In- , terutama untuk perbandingan [HIn]/[In-] lenih besar dari 10 atau lebih kecil dari 0,1. Oleh sebab itu perubahan warna yang dapat diamati oleh rata-rata mata manusia adalah terbatas pada konsentrasi [HIn]/[In-] antara 0,1 sampai 10. Perbandingan yang lebih besar dari 10 atau lebih kecil dari 0,1 maka perubahan warnanya tidak akan teramati oleh mata kita.
Sebagai hasilnya maka kita dapat menulis perbandingan [HIn]/[In-] dalam bentuk sebagai berikut,
jika persamaan diatas kita masukan ke persamaan 2 maka kita akan mendapatkan
Untuk mendapatkan kisaran perubahan warna indikator maka kita menerapkan logaritna negatif dari dua persamaan diatas ,
Persamaan diatas menunjukkan bahwa misalnya indikator asam yang memiliki konstanta disosiasi 1x10exp-5 maka akan menunjukkan perubahan warna yang jelas pada saat pH larutan dari 4-6. Berikut adalah range pH beberapa indikator yang dipergunakan dalam titras asam basa